Bagaimana astronom dapat mengetahui jarak galaksi, dan sejauh mana kita dapat melihat alam semesta serta apa yang dapat kita lihat pada jarak terjauh?
Pada Maret 2004 tim astronom di European Southern Observatory yang dipimpin Roser Pello dan Daniel Schaerer mengumumkan penemuan galaksi yang terjauh, yaitu Abell 1835 IR191. Jarak galaksi tersebut 13,23 miliar tahun cahaya (satu tahun cahaya adalah jarak tempuh cahaya dalam satu tahun). Satu detik cahaya adalah 300.000 kilometer).
Metode penentuan jarak bintang paling sederhana adalah Metode Paralaks Trigonometri. Akibat perputaran bumi mengitari matahai maka bintang-bintang yang dekat tampak bergeser letaknya terhadap latar belakang bintang-bintang yang jauh. Dengan mengukur sudut pergeseran itu (sudut paralaks) dan jarak Bumi ke Matahari, maka jarak bintang dapat ditentukan.
Sudut paralaks sangat kecil sehingga hanya bisa digunakan untuk bintang-binang yang jaraknya relatif dekat, yaitu hanya sampai beberapa ratus tahun cahaya (bandingkan dengan diameter galaksi kita yang 100.000 tahun cahaya. Ada metode lain yang dapat meraih jarak lebih jauh yaitu metode fotometri.
Bayangkan pada malam yang gelap anda melihat sebuah lampu dari kejauhan. Anda diminta untuk menentukan jarak lampu itu. Ini dapat dilakukan asalkan tahu berapa watt daya lampu tersebut (daya sumber cahaya- luminositas atau energi yang dipancarkan sumber setiap detik). Jarak ditentukan dengan menggunakan prinsip inverse-square la. Artinya terang sumber cahaya yang terlihat sebanding terbalik dengan jarak kuadrat. Suatu lampu yang jaraknya kita jauhkan dua kali, maka cahanya akan tampak lebih redup empat kali.
» Baca Selengkapnya…. →

















