Mengenai Ilmu Supply Chain



April 9, 2011

Supply Chain Management, kata-kata itu menjadi akrab sekitar lima tahun terakhir ini, cabang ilmu yang sebenarnya merupakan anak dari mata cabang ilmu manajemen produksi, kini menjadi ilmu yang sangat trendy diperbincangkan oleh para pelaku industri, namun, sebenarnya apakah Supply Chain Management itu, mari kita lihat definisi berikut ini.

Menurut Harland C.M. 1996: Supply Chain Management adalah manajemen dari jaringan interkoneksi bisnis yang merupakan syarat utama dari paket produk dan jasa yang diperlukan oleh pemakai akhir.

Supply Chain mencakup semua pergerakan dan penyimpanan dari bahan baku, simpanan dalam proses, dan barang jadi dari mulai titik asal hingga ke titik konsumsi/penggunaan.

Definisi lain dari Supply Chain Manajemen menurut kamus APICS (Asosiasi Manajemen Operasi): “Desain, perencanaan, eksekusi dan pengawasan dari aktifitas supply chain dengan tujuan menciptakan nilai jaringan, membangun infrastruktur yang kompetitif, mengungkit logistik yang menyebar ke seluruh dunia, sinkronisasi penawaran dan permintaan, dan mengukur kinerja secara menyeluruh”.

Supply Chain Management sendiri harus mengacu kepada persoalan sebagai berikut:

  • Distribution Network Configuration: angka, lokasi dan tujuan-tujuan jaringan supplier, fasilitas-fasilitas produksi, pusat-pusat distribusi, pergudangan, cross-docks, dan pelanggan / konsumen.
  •  

  • Distribution Strategy: pertanyaan-pertanyaan dari kontrol operasi (sentralisasi, desentralisasi, atau berbagi); skema pengantaran, misalnya pengapalan langsung, titik kumpul pengapalan, cross docking, DSD (pengantaran langsung ke toko), lingkaran tertutup pengapalan; mode transportasi, misalnya, kendaraan pembawa, termasuk trucking, parcel, kereta api; transportasi intermodal, termasuk TOFC (trailer on flatcar) dan COFC (Container on flatcar); pengangkutan laut; pengangkutan udara; strategi penambahan (pull-push atau hybrid); dan kontrol transportasi (misalnya pengkutan privat, pengangkutan pribadi, pengangkutan kontrak, atau 3PL).
  •  

  • Trade-Offs in Logistical Activities: Aktivitas-aktivitas di atas harus terkoordinasi dalam rangka mencapai biaya logistik terendah. Trade-off mungkin meningkatkan biaya total jika hanya satu aktifitas yang dioptimalkan. Misalkan penggunaan truk akan lebih ekonomis ketimbang menggunakan kontainer pada batasan tertentu, namun di sisi lain akan meningkatkan biaya sewa gudang pada titik lainnya. Oleh karena itu penting untuk menggunakan pendekatan yang sistematik ketika merancang aktifitas logistik. Trade off ini merupakan kunci untuk membangun Logistik dan Strategi Supply Chain Management yang sangat efisien dan efektif.
  •  

  • Information: Integrasi dari proses-proses melalui supply chain untuk berbagi informasi berharga, termasuk sinyal permintaan, peramalan, inventory, transportasi, kolaborasi yang potensial, dan lain sebagainya.
  •  

  • Inventory Management: Kuantitas dan lokasi dari inventory, termasuk material bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.
  •  

  • Cash-Flow: Mengatur periode pembayaran dan metodologi untuk pertukaran dana dari keseluruhan bagian yang ada di dalam supply chain.
Karena supply chain ini merupakan ilmu yang merupakan gabungan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu (Manajemen Pemasaran, Manajemen Strategik, Manajemen Keuangan, Manajemen Produksi) meskipun berada di dalam mata ilmu manajemen produksi, sulit untuk mencarikan teori yang menjelaskan keberadaan maupun batasan ilmu ini.
Namun tidak dapat dihindari bahwa ilmu ini kini semakin berkembang dan semakin jauh terlibat dalam kehidupan sehari-hari utamanya dalam bisnis dan perdagangan dunia. Tidak lagi melulu berbicara soal manufaktur ataupun pengiriman barang. Usaha yang banyak mempergunakan pendekatan cabang ilmu ini meliputi bidang retailer, bisnis OEM, farmasi dan lain sebagainya.
Sumber: Wikipedia

3 Hal Penting dalam Supply Chain

”Apa 3 hal penting di dalam area supply chain yg harus Anda tangani dengan baik?”

Jawaban Anda tentulah akan mengacu pd:
Inventory level
Distribution cost
Service level

Inventory menjadi penting karena menjadi faktor yg juga menentukan service level kepada customer. Bayangkan jika inventory Anda dalam kondisi bermasalah, maka customer tidak akan terlayani dgn baik. Customer minta produk A sejumlah p, sedangkan yg Anda miliki adalah produk Z sejumlah q. Tentu saja customer akan kecewa, dan pada akhirnya mereka akan beralih ke produk yg lain yg sejenis yg disediakan oleh perusahaan kompetitor Anda.

Dengan kata lain, inventory level akan mempengaruhi ketersediaan barang yg siap dijual utk melayani customer. Inventory dibutuhkan utk mengantisipasi ketidakpastian. Ada banyak sumber ketidakpastian, yg pertama tentunya demand dari customer, yg kedua adalah supply reliability. Inventory tidak akan dibutuhkan jika kebutuhan dari customer sudah pasti dan supply reliability 100%

Penyediaan inventory membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Biaya terbesar bukanlah dari ongkos penyimpanan, tapi justru cost of capital. Cost of capital jika diterjemahkan secara sederhana adalah biaya yg harus dikeluarkan utk menyediakan inventory sebanyak yg kita perlukan. Cost of capital ini biasanya diperhitungkan dgn cara mengalikan tingkat bunga simpanan di bank dgn nilai total inventori. Mengapa demikian? Karena jika uang senilai inventory itu disimpan di bank selama 1 periode, maka perusahaan akan menerima pemasukan dari bunga bank sebesar nilai inventori dikalikan bunga 1 periode. Contoh sederhana utk cost of capital adalah sbb:

Bayangkan perusahaan Anda memiliki penjualan sebesar 1 milyar per bulan, dgn inventory senilai 20 milyar. Jika bunga per bulan adalah 1%, maka cost of capital adalah sebesar 1% x 20 milyar atau sejumlah 200 juta per bulan. Jika perusahaan berhasil menurunkan inventory menjadi 10 milyar, maka selisih cost of capital menjadi 100 juta. Nilai 100 juta ini jika digunakan utk cash flow perusahaan maka bisa menurunkan jumlah modal yg harus dipinjam ke bank utk keperluan pembiayaan perusahaan, yg pada akhirnya akan menurunkan biaya bunga bank yg menjadi beban perusahaan.

Nilai 100 juta itu sendiri sebanding dgn 1% dari nilai penjualan per bulan.

Distribution cost adalah biaya terbesar berikutnya yg harus dikeluarkan oleh perusahaan utk memastikan agar produknya tiba di tempat pemesan. Umumnya distribution cost berada di kisaran 2% sd 10% dari nilai penjualan. Tergantung dari jenis industri dan sebaran geografis. Semakin luas daerah yg harus dijangkau, semakin mahal biayanya. Dan semakin tinggi persyaratan distribusi, maka semakin mahal biayanya.

Sebagai contoh, biaya distribusi sabun batangan utk pabrik yg ada di Tangerang dan hanya kirim ke Jabodetabek akan berkisar di 0.5 sd 0.7% thd total nilai barang yg dikirim, tetapi jika dikirim ke Jawa Tengah akan menjadi antara 0.9-1.1%.

Pengiriman utk makanan beku yg membutuhkan refrigerated truck akan lebih mahal dibandingkan sabun batangan, akan tetapi biaya distribusi utk Jakarta jika dibandingkan dgn nilai produknya akan ada di kisaran 0.8-1%., tidak terlalu jauh dari persentase biaya kirim sabun batangan . Hal ini terjadi karena nilai produk yg dikirimkan juga lebih mahal dibandingkan sabun batangan, walaupun jumlah unit yg dikirim lebih sedikit dan biaya per trip lebih mahal.

Biaya kirim utk spare part yg dibutuhkan di industri telekomunikasi dan migas akan jauh lebih mahal dibandingkan produk FMCG, karena jumlah yg dikirim juga tidaklah banyak dgn persyaratan yg sangat tinggi. Adakalanya pengiriman spare part diminta utk same day service, dgn demikan moda kirimnya pun menjadi airfreight dgn rate kiriman yg tinggi per unitnya.

Service level menjadi fokus dari area supply chain karena menjadi tolok ukur seberapa baik perusahaan melayani customernya. Service level diukur dgn cara membandingkan order yg diminta oleh customer dgn apa yg dipenuhi oleh perusahaan. 100% service level akan terjadi jika 100% permintaan customer dipenuhi oleh perusahaan.

Penghitungan service level menjadi lebih kompleks karena kemudian customer tidak hanya menginginkan kesesuaian jumlah yg diorder tapi juga ketepatan waktu kirim. Customer merasa bahwa tidak ada gunanya si perusahaan mengirimkan sejumlah yg diorder tetapi datangnya terlambat.

Pertanyaan:

Apa yg akan Anda lakukan jika masuk ke dalam sebuah perusahaan yg kondisinya parah:
Inventory level sangat tinggi, hampir 10 kali lipat dari penjualan per bulan
Biaya distribusi sangat mahal, lebih dari kisaran yg seharusnya
Dan service levelnya sangat rendah, jauh dibawah 60%

Area mana yg akan Anda perbaiki pertama kali, apakah customer service, distribution atau inventory? Mengapa demikian?