Berpikir Lebih Tepat Sasaran
September 16, 2011
Hidup ini semestinya sederhana, namun pada akhirnya dirasa menjadi rumit ketika kita menyadari ada banyak hal bermain di dalamnya. Pada dasarnya, dunia kita memang merupakan sebuah sistem yang sarat dengan interdependensi. Manusia dan kejadian saling terkait satu sama lain. Apa yang kita lakukan akan membawa berbagai dampak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Jika kita memahaminya dan bisa memandang dunia dengan cara seperti ini, maka kita bisa lebih sadar akan peran dan tanggung jawab kita di dalam sistem tersebut. Pemahaman itu juga akan membantu kita lebih cermat dalam menghadapi masalah.
Penampilan Anda pun Bicara
September 16, 2011
Coba dengar pembicaraan antara dua orang peserta seminar yang sedang memperhatikan para pembicara yang duduk di panggung.
![]() |
![]() |
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penampilan merupakan salah satu acuan yang digunakan untuk menilai orang lain. Apalagi jika orang yang dihadapi sama sekali tidak dikenal, penampilan sering menjadi acuan utama. Dengan melihat bentuk tubuh, wajah, gerak-gerik, tata rias, gaya berpakaian atau tata rambut, bisa timbul berbagai kesan mulai dari yang positif sampai negatif. Di sinilah terjadi proses persepsi sosial, yang oleh Baron dan Byrne (1994) didefinisikan sebagai proses yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mencari informasi tentang orang lain.
Self Awareness: Langkah awal menuju adaptasi emosi
September 16, 2011
“Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!”
“Jangan begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup”
“Tapi cuma dia yang bisa membuatku bahagia”
“Masih ada pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya”
“Aku tidak peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!”
Percakapan singkat di atas adalah penggalan adegan dari sebuah sinetron di televisi. Kisah klise tentang seorang wanita yang ditinggal pergi pasangan yang sangat dicintainya. Banyak alasan kenapa sang pria pergi. Bisa jadi karena bekerja di lain kota, selingkuh dengan wanita lain, atau bahkan meninggal dunia karena tertular penyakit langka. Yang jelas, sepeninggal pria ini, sang wanita merasa kehilangan jati diri. Ia terlarut dalam emosi kesedihan yang mendalam hingga ia pun merasa hidupnya telah berakhir.




