Berpikir Lebih Tepat Sasaran



September 16, 2011

Hidup ini semestinya sederhana, namun pada akhirnya dirasa menjadi rumit ketika kita menyadari ada banyak hal bermain di dalamnya. Pada dasarnya, dunia kita memang merupakan sebuah sistem yang sarat dengan interdependensi. Manusia dan kejadian saling terkait satu sama lain. Apa yang kita lakukan akan membawa berbagai dampak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Jika kita memahaminya dan bisa memandang dunia dengan cara seperti ini, maka kita bisa lebih sadar akan peran dan tanggung jawab kita di dalam sistem tersebut. Pemahaman itu juga akan membantu kita lebih cermat dalam menghadapi masalah.

Mengapa kita perlu lebih cermat menghadapi masalah? Karena seringkali kita sekedar menangkap permasalahan hanya di permukaan dan segera mencari penyelesaian instan tanpa menyadari adanya penyebab-penyebab yang lebih mendasar. Ini seperti kebiasaan minum obat pereda pusing setiap kali sakit kepala tanpa mencari tahu apa sebenarnya yang membuat kita sering mengalami sakit kepala. Akibatnya, penyebab sakit kepala tidak ditemukan, dan penggunaan berlebihan terhadap obat pereda sakit (yang hanya mengurangi gejala) justru bisa menimbulkan masalah lain.

Cobalah untuk berpikir lebih tepat. Temukan dan kaji akar penyebab permasalahan agar kita dapat mengatasinya dan sekaligus melenyapkan gejala-gejala yang mengikutinya. Kalau misalnya sesudah melakukan pemeriksaan kesehatan diketahui bahwa penyebab sakit kepala adalah masalah pada gigi, maka dengan menyelesaikan masalah gigi ini kita memperoleh solusi atas dua hal sekaligus: penyakit pada gigi, dan juga sakit kepala yang sebetulnya hanyalah gejala dari adanya masalah gigi. Artinya, dengan cara berpikir yang lebih tepat sasaran, kita bisa mengambil langkah konstruktif terhadap akar masalah  dan sekaligus menyelesaikan berbagai masalah lain yang menyertai. Jadi, dengan satu langkah efektif, kita membawa perbaikan besar di sana-sini secara sekaligus.

Tapi kenapa ya, kita masih saja sering saja terjebak dalam keinginan mengambil solusi pintas? Akibatnya, masalah datang kembali dan lagi-lagi kita jadi pusing menanganinya. Bagaimana caranya supaya lebih cermat?

Begini caranya. Ada situasi-situasi yang terjadi berulangkali dalam kehidupan kita. Kalau kita mau meluangkan waktu untuk menelitinya, kita akan terbantu untuk melihat mekanisme interaktif di balik situasi itu dan latar belakang yang mendasari suatu masalah. Kita juga bisa menemukan pola tindakan yang sering kita ambil dalam mengatasi masalah-masalah tertentu dan dapat menemukan apa yang menjadi “kebiasaan” kita dalam menyelesaikan masalah. Nah, meskipun satu dua kali ”kebiasaan” tersebut memberi jalan keluar, sadarilah bahwa ”kebiasaan” itu tidak selalu menjanjikan hasil yang efektif. Oleh karenanya, kita perlu menyiasati agar tidak terjebak dalam pola yang “biasa” digunakan dalam menganalisis dan memecahkan masalah. Mari kita lihat beberapa kebiasaan yang biasa terjadi dan cara mengatasinya.

1. Solusi Yang Bukan Solusi

Mungkin sudah jadi kecenderungan manusia untuk segera bereaksi terhadap gejala (simtom) yang menyebabkan ketidaknyamanan dengan mencari pereda secara instan. Kita selalu ingin cepat-cepat terbebas dari rasa sakit atau tidak rasa tidak menyenangkan itu.  Jika kemudian solusi yang diambil tampak berhasil menyelesaikan gejala (simtom), maka muncul suatu perasaan lega (meski inti masalahnya belum tentu terpecahkan) dan kita merasa berhasil menyelesaikan masalah. Padahal, akar masalah tetap ada dan di waktu lain memunculkan gejala (simtom) yang sama atau bahkan lebih buruk. Dan biasanya, lagi-lagi kita mengulangi solusi instan yang pernah kita ambil karena sudah yakin akan efektivitasnya. 

Agar terhindari dari kebiasaan yang satu ini, sadarilah bahwa penyelesaian pintas hanya mengurangi gejala untuk sementara. Kita tetap harus berusaha menemukan solusi yang sesungguhnya. Jadi, kalau Anda menghadapi kesulitan, luangkan waktu untuk meneliti inti permasalahan dan selesaikanlah masalah ke akar-akarnya. Ya, penyelesaian ”rasa sakitnya” mungkin jadi sedikit tertunda, tapi tindakan itu mencegah munculnya masalah yang sama di kemudian hari. Seperti pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nah!

2. ”Lempar Monyet”

Istilah ini sering kita dengar, melempar masalah pada orang lain agar kita merasa lega. Minta teman menyelesaikan tugas yang tidak kita kuasai, misalnya. Alasannya sih minta bantuan supaya tugas terselesaikan dengan baik. Tapi jika selalu begitu, kapan kita akan belajar menguasai tugas tersebut? Setiap kali ada tugas serupa, kita harus mencari teman yang bisa dimintai tolong. Ya kalau mereka punya waktu, kalau tidak? Atau bahkan kadang-kadang, kita yang ”mengambil monyet” agar masalah cepat selesai. Kalau bawahan seringkali melakukan kesalahan, kadang kita mengambil jalan pintas: mengerjakannya sendiri. Sama saja dengan sebelumnya, tugasnya mungkin selesai dengan baik, tapi apakah si bawahan lantas meningkat kompetensinya? Apa seumur-umur kita mau mengambil alih tugas dia?

”Melempar monyet” memang cara yang paling mudah, dan karena mudah kita jadi senang mengulanginya. Sekali lagi, jangan malas untuk mencari akar masalah. Kalau masalahnya kemampuan, ya selesaikan masalah kemampuan itu, jangan lantas pekerjaannya yang dilempar atau diambil alih. Atau, kalau kondisinya menuntut kita untuk mengatasi gejalanya terlebih dahulu, maka hal ini tetap harus diupayakan bersamaan dengan pencarian solusi yang mendasar. Jadi, kalau keadaannya mendesak maka tugas bawahan boleh saja kita ambil alih, tapi tetap kita harus melatih bawahan agar kelak ia mampu mengerjakannya sendiri. Kira-kira seperti merawat orang demam, selain mengkompres kepalanya, kita juga harus tetap mencari penyembuhan yang tepat.

3. Mengubah Sasaran

Coba lakukan introspeksi, kadang-kadang betapa mudahnya kita menurunkan sasaran saat terasa sulit untuk mencapainya. Ketika kenyataan kurang mendukung, bukan usaha yang kita kerahkan, tapi ambisi yang kita kutak-katik. ”Ah sudahlah, proyek ini kita selesaikan tahun depan saja, sepertinya kita kekurangan orang.” Terasa lebih lega kan? Kita enggan pusing-pusing mencari jalan keluar mengatasi masalah kekurangan tenaga. Kalau cara ini sering kita ulang, tanpa kita sadari, bukan sasarannya saja yang semakin rendah, kinerja kita pun akan semakin rendah. Kita tidak pernah lagi memacu diri dengan sasaran-sasaran yang prestatif.

Nah, supaya tidak terjadi revisi begitu saja terhadap sasaran, maka pertama kali kita harus tahu betul mengapa kita menetapkan sasaran seperti itu. Kita harus yakin betul bahwa sasaran itu memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Misalnya, kalau batas akhir penyelesaian proyek kita yakini sebagai representasi kepercayaan klien pada perusahaan kitamaka kita tidak akan mudah menyerah begitu saja dengan masalah-masalah sumberdaya. Kita bisa mencari tambahan orang dari luar, misalnya. Di sini memang perlu analisis yang tajam terhadap sasaran kita. Ada beberapa ambisi yang kelihatannya keren namun sulit untuk direalisasikan, atau sesungguhnya tidak terlalu penting.

4. Eskalasi

Eskalasi adalah masalah yang menjadi semakin besar atau semakin serius. Ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Satu pihak melakukan sesuatu yang dipandang mengancam, lalu pihak lain berusaha merespons ancaman ini dengan tindakan lain yang juga dianggap sebagai ancaman oleh pihak pertama, dan begitu seterusnya.

Perang harga misalnya. Warung gado-gado Bu Siti menawarkan harga lebih murah untuk satu porsi gado-gado dan teh hangat. Merasa terancam, Mpok Leha menawarkan harga yang lebih murah lagi untuk menu yang sama. Karena ”panas”, Bu Siti mengurangi lagi harga si gado-gado. Dan seterusnya sampai akhirnya Bu Siti maupun Mpok Leha harus mengurangi bahan-bahan gado-gadonya. Mula-mula telur rebus yang menjadi separuh, lalu seperempat, lalu menghilang. Kemudian diikuti dengan besarnya porsi yang berkurang, teh hangat yang berubah jadi air putih, emping renyah yang menjadi krupuk murahan, dan seterusnya. Ketika kualitas terus menurun, orang tidak akan mendapatkan lagi gado-gado yang nikmat. Dan akhirnya, Bu Siti maupun Pok Leha akan kehilangan pelanggan. Nah, mengapa Bu Siti dan Mpok Leha pernah melihat cara itu sebagai cara yang tepat? Karena cara itu terasa melegakan dan sepertinya efektif. Mpok Leha bisa merasakan kepuasan karena bisa mematahkan ancaman dari Bu Siti, dan mungkin saja pelanggannya bertambah karena mereka tentu mencari harga yang lebih murah. Tapi lama kelamaan langkah menurunkan harga justru memunculkan masalah yang lebih besar, penurunan kualitas.

Untuk mengatasi eskalasi, kita harus mau menelusuri dan menguji asumsi yang mendasari persepsi kita tentang ancaman pihak lain. Benarkah diri kita terancam oleh pihak lain? Apa betul pihak itu punya niat menghancurkan kita? Apakah sebenarnya yang menjadi permasalahan kita? Barangkali perkara gado-gado tadi sebetulnya sekedar masalah efisiensi. Bu Siti bisa memberi harga lebih murah mungkin karena sayur-sayuran datang dari kebunnya sendiri. Mpok Leha bisa mempertahankan pelanggan misalnya dengan membuat warungnya bersih, nyaman, dan ada teve. Jadi, bukan gado-gadonya yang jadi sasaran. Bahkan bukan tidak mungkin Bu Siti dan Mpok Leha berkolaborasi membuat warung gado-gado yang lebih besar. 

5. Tragedi Sumberdaya Berlimpah

Apa pula ini? Untuk mudahnya, bayangkan sebuah pesta dengan hidangan cara prasmanan. Seringkali orang cenderung mengambil sebanyak mungkin makanan tanpa memikirkan orang lain juga mungkin ingin mengambil makanan tersebut. Bahkan kadang kita tidak mengukur apakah kita sanggup menghabiskannya. Begitu kelihatan enak, ambil sebanyak-banyaknya. Semestinya kita cukup mengambil makanan sekedar memadai untuk bisa kita makan. Nah, ketika tersedia sumberdaya berlimpah, kita punya kecenderungan menggunakannya seenak udel. Misalkan, karena mudah minta stok kertas di kantor, kita jadi terbiasa menggunakan kertas seenaknya. Begitu stok menipis dan anggaran sudah keburu habis, kelimpunganlah kita semua.

Agar tidak terjebak pada kebiasaan ini, kita perlu membuat supaya semua orang merasa isyu tersebut adalah isyu yang harus dipikirkan bersama dan diatasi bersama. Semua mesti menyadari bahwa kelimpahan itu sifatnya tidak langgeng dan ada pihak-pihak lain yang juga berkepentingan. Jadi, masing-masing mesti memikirkan dampak perbuatannya pada pihak lain. Cara lain adalah dengan mengalokasikan bagian-bagian sumberdayaitu kepada tiap orang dan minta mereka bertanggung jawab atas penggunaannya.

Nah, demikianlah lima kebiasaan pikir yang sebaiknya ditinggalkan: 1) jangan berpikir bahwa solusi instan akan menuntaskan masalah, 2) jangan berpikir masalah akan selesai jika dipindahkan pada orang lain, 3) jangan berpikir menurunkan sasaran adalah satu-satunya cara untuk keluar dari masalah, 4) jangan berpikir curiga bahwa sesuatu adalah ancaman untuk kita, dan 5) jangan berpikir kita boleh menghambur-hamburkan sumberdaya milik sama yang tampaknya berlimpah.

Tentu masih ada kebiasaan-kebiasaan berpikir lain yang perlu kita perbaiki, tapi setidaknya dengan memperbaiki lima hal ini saja, hidup Anda akan menjadi lebih baik!

Disadur dari buku Big Fish Eat Small Fish, Lenses to See The World
(Low Guat Tin, Ng Pak Tee, Janice Baruch, 2003)

Sumber : LPTUI

Artikel Terkait Lainnya :