<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BEOCO (Blogger ID)</title>
	<atom:link href="http://blog.beoco.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.beoco.or.id</link>
	<description>Sharing Code and Inspiring Others</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 15:30:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>10 Tanda Anda Harus Pindah Kerja</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2012/01/22/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2012/01/22/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 23:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Rata-rata jam kerja pegawai kantoran adalah 8 hingga 9 jam. Artinya, setiap hari, Anda menghabiskan sepertiga hidup Anda di kantor. Sia-sia sekali rasanya jika waktu sebanyak ini dihabiskan dengan mengeluh dan berbagai hal lain yang membuat Anda tak bahagia. Mungkin sudah saatnya Anda mengundurkan diri dan pindah kerja ke perusahaan lain, atau jadi pengusaha? Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rata-rata jam kerja pegawai kantoran adalah 8 hingga 9 jam. Artinya, setiap hari, Anda menghabiskan sepertiga hidup Anda di kantor. Sia-sia sekali rasanya jika waktu sebanyak ini dihabiskan dengan mengeluh dan berbagai hal lain yang membuat Anda tak bahagia. Mungkin sudah saatnya Anda mengundurkan diri dan pindah kerja ke perusahaan lain, atau jadi pengusaha?<br />
<span id="more-133"></span><br />
Jika Anda mengalami 10 hal berikut ini, tandanya Anda memang harus segera mengucap selamat tinggal pada rekan kerja.</p>
<p><strong>1. Anda begitu membenci hari Senin</strong><br />
Merasa sedih saat weekend berakhir dan Senin kembali datang itu hal yang wajar. Tapi jika Anda membayangkan masuk kantor, bekerja, bertemu bos, bertemu rekan kerja, dan semua yang akan terjadi hari Senin, lalu Anda merasa muak, takut, bahkan stres, artinya Anda memang tak ingin berada di sana. Mungkin Anda hanya bertahan hanya demi punya pekerjaan? Tapi untuk apa menyiksa diri dan menghabiskan sepertiga hidup Anda di tempat yang Anda benci, sementara banyak orang lainnya yang menikmati pekerjaan mereka?</p>
<p><strong>2. Anda bekerja tak dengan hati</strong><br />
Pekerjaan yang ideal adalah saat kita mengerjakan apa yang kita cintai. Memang tak semua orang seberuntung itu, tapi jika Anda mencintai pekerjaan Anda, melakukan aktivitas sehari-hari di kantor pun tak akan terasa berat. Bahkan jika pekerjaan Anda berat, Anda masih bisa bersenang-senang di kantor. Namun jika Anda mulai merasa terpaksa, atau bahkan benci, mengerjakan tugas di kantor, sampai Anda mencari-cari alasan untuk tak masuk kantor, untuk apa dilanjutkan?</p>
<p><strong>3. Hubungan dengan bos tidak baik</strong><br />
Bos galak itu biasa. Yang harus diwaspadai adalah jika hubungan Anda dengan bos lebih buruk dibanding hubungan bos dengan rekan-rekan kerja Anda. Merupakan pertanda buruk pula jika Anda sampai harus menyelesaikan masalah Anda dengan bos lewat atasan bos Anda, atau lewat departemen SDM (HRD).</p>
<p><strong>4. Kemampuan Anda tak dianggap</strong><br />
Anda lulusan S2 manajemen, namun di kantor ini Anda hanya diberi tugas mengerjakan hal-hal remeh. Berkali-kali Anda meminta naik jabatan atau diberi tanggung jawab lebih, namun permohonan itu tak pernah digubris. Jangan sia-siakan bakat dan potensi Anda untuk perusahaan yang tak menghargainya.</p>
<p><strong>5. Masa depan perusahaan Anda tak jelas</strong><br />
Perusahaan Anda terlilit utang, beberapa departemen ditutup, sejumlah besar karyawan diberhentikan, gaji sudah tak dibayarkan selama dua bulan. Jika perusahaan diibaratkan perahu, segeralah Anda menyelamatkan diri sebelum ikut tenggelam.</p>
<p><strong>6. Prinsip Anda dan perusahaan tak sejalan</strong><br />
Anda adalah orang yang sangat mencintai lingkungan, namun Anda bekerja di perusahaan yang dikenal suka mencemari lingkungan. Awalnya mungkin Anda masih bisa berkompromi, tapi jika hal ini tetap mengganggu Anda dan bahkan membuat Anda stres, carilah perusahaan lain yang sejalan dengan prinsip Anda.</p>
<p><strong>7. Gaji Anda tak memadai</strong><br />
Biasanya fresh graduate alias yang baru lulus kuliah dan memiliki nol pengalaman masih mau menerima pekerjaan dengan gaji di bawah standar. Tapi itu pun seharusnya disertai catatan bahwa dalam setahun atau dua tahun akan ada kenaikan gaji. Jika usia Anda sudah lebih dari 27 tahun dan Anda masih digaji di bawah standar, padahal pekerjaan yang sama di perusahaan lain gajinya berkali lipat, saatnya Anda cari kesempatan lain. Tentu saja ini berlaku jika permintaan Anda untuk naik gaji tak pernah digubris.</p>
<p><strong>8. Anda tak suka rekan-rekan kerja Anda</strong><br />
Pekerjaan yang berat akan terasa ringan dan menyenangkan jika dikerjakan bersama orang-orang yang Anda cintai. Bahkan rekan-rekan kerja bisa jadi alasan kita untuk bersemangat berangkat kerja di hari Senin. Tapi jika Anda tak punya teman dekat di kantor, atau sama sekali tak bergaul dengan mereka karena merasa tak cocok, makan siang selalu sendiri, rekan-rekan kerja memperlakukan Anda dengan tidak baik, dan Anda sering terlibat pertengkaran dengan rekan kerja, saatnya ucapkan selamat tinggal pada mereka.</p>
<p><strong>9. Anda makan gaji buta</strong><br />
Yang Anda lakukan di kantor sebagian besar adalah browsing di internet yang tak berhubungan dengan pekerjaan, lalu nongkrong, lalu ngobrol-ngobrol dengan rekan kerja, dan tak mengerjakan apapun. Enak memang, karena Anda tetap digaji meskipun Anda tak berkontribusi. Tapi ini artinya Anda &#8220;tak dianggap&#8221; oleh perusahaan. Anda produktif atau tidak, perusahaan tak peduli. Bahkan mungkin Anda tak masuk kantor pun tak ada pengaruhnya bagi keseluruhan alur kerja perusahaan. Waspadalah, bisa-bisa Anda didepak dari perusahaan karena larut dalam perilaku &#8220;makan gaji buta&#8221; ini.</p>
<p><strong>10. Anda masih mencari-cari lowongan pekerjaan di tempat lain</strong><br />
Tak ada salahnya mencari tahu peluang dan kesempatan apa yang ada di luar sana. Namun jika sebagian besar waktu Anda dihabiskan dengan mencari lowongan kerja di internet, atau setiap bertemu teman Anda selalu berkata, &#8220;Ada lowongan nggak, di kantormu?&#8221;, artinya Anda memang benar-benar ingin keluar dari perusahaan Anda. Ikutilah kata hati itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : <a href="http://id.she.yahoo.com/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja.html">http://id.she.yahoo.com/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2012/01/22/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maju Terus, Pantang Mundur !</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/30/maju-terus-pantang-mundur/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/30/maju-terus-pantang-mundur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 00:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya, apa sih motivasi itu? Motivasi merupakan sesuatu yang memberi energi dan mengarahkan perilaku untuk secara gigih mencapai tujuan. Sederhananya, ketika Anda merasa bersemangat dalam melobi calon klien demi komisi yang lebih besar, maka dapat dikatakan bahwa Anda memiliki motivasi besar untuk memenangkan proyek tersebut. Sebaliknya, jika Anda malas-masalan melayani klien yang merepotkan, maka bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table width="613" border="0" cellpadding="6">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="20%">
<p align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/motivasi.jpg" alt="" width="126" height="360" align="left" border="1" /></span></p>
</td>
<td valign="top" width="80%">
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Sebetulnya, apa sih motivasi itu?</strong> Motivasi merupakan sesuatu yang memberi energi dan mengarahkan perilaku untuk secara gigih mencapai tujuan. Sederhananya, ketika Anda merasa bersemangat dalam melobi calon klien demi komisi yang lebih besar, maka dapat dikatakan bahwa Anda memiliki motivasi besar untuk memenangkan proyek tersebut. Sebaliknya, jika Anda malas-masalan melayani klien yang merepotkan, maka bisa dibilang bahwa Anda bermotivasi rendah untuk memuaskan klien tersebut.</span></p>
<p align="justify"><span id="more-118"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Motivasi tidak hanya dimiliki oleh individu, tetapi juga bisa dimiliki oleh suatu kelompok. Tapi perlu diingat bahwa kelompok merupakan kesatuan dari beberapa individu yang memiliki hubungan tertentu. Oleh karena itu motivasi yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam suatu kelompok pun pada akhirnya akan membentuk motivasi kelompok. Coba tilik tim kerja Anda pada awal-awal penugasan, biasanya atmosfer kerja tim terasa bergairah bukan? Itu dikarenakan masing-masing anggota kelompok masing bersemangat dan termotivasi penuh untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Nah, sekarang, coba lihath tim kerja Anda saat ini, apakah ada perubahan? Kemungkinan besar motivasi tim kerja Anda juga mulai menurun sejalan dengan menurunnya motivasi masing-masing anggotanya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tenang, jangan panik. Berdasarkan pengalaman lebih dari 30 tahun memberikan pelatihan-pelatihan di bidang psikologi industri dan organisasi, dan berkutat dengan materi-materi motivasi, kali ini LPTUI akan memberi tips bagaimana memotivasi tim kerja Anda. Tidak salah jika Anda mencoba mengikuti saran-saran di bawah ini untuk meningkatkan motivasi tim kerja Anda.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Segarkan sasaran </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Sekaranglah saat yang cepat untuk menyegarkan ingatan, apa sih sebenarnya tujuan yang ingin dicapai tim kerja Anda? Jika tujuan awal sudah terasa agak samar-samar, tidak ada salahnya merumuskan kembali tujuan yang ingin dicapai tim kerja. Dalam merumuskan tujuan, ada panduannya : buatlah tujuan yang <strong><span style="color: #003333;">SMART</span></strong>: </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>S</strong><span>pesific</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tujuan yang dirumuskan harus jelas, tidak boleh terlalu umum. Rumusan seperti: “Ingin mencapai target penjualan” bukanlah rumusan tujuan yang spesifik. Agar lebih jelas, tambahkan jumlah target penjualan yang ingin tercapai, misalnya menjadi: “Mencapai target penjualan Rp. 3.000.000.000,-.”</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">M</span></strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span>easurable</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tujuan yang dirumuskan harus bisa diukur derajat keberhasilan ketercapaiannyanya. Tujuan yang hanya berupa ungkapan “ingin sukses” tentunya akan sulit dinilai keberhasilannya. Apa yang dapat dijadikan tolak ukur kesuksesan? Nilai uang tertentu? Punya relasi sejumlah tertentu? Kecepatan? Presisi? Pada contoh sebelumnya, sudah dapat ditentukan bahwa tujuan tim dikatakan berhasil ketika tim sudah berhasil menjual produk senilai Rp. 3.000.000.000,-. Ini berarti sudah ada ukuran yang jelas. </span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>A</strong><span>ttainable</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tujuan yang dirumuskan harus cukup masuk akal untuk bisa dicapai. Jika tim Anda memiliki tujuan untuk mencapai target penjualan sebesar Rp. 10.000.000.000,- padahal data-data penjualan tahun lalu hanya menunjukkan maksimal penjualan sebesar Rp. 100.000.000, maka barangkali Anda perlu menyesuaikan tujuan tim menjadi lebih realistis.</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">R</span></strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span>elevant</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Unsur ini menilik kesesuaian antara satu tujuan dengan tujuan lain. Bila tim kerja Anda merupakan tim kerja tenaga penjualan, maka pertimbangkan kembali jika ada tujuan yang kurang jelas keselarasannya, misalnya antara tujuan meningkatkan jumlah pelanggan dengan tujuan meningkatkan marjin keuntungan setiap produk. Mana yang diutamakan? Menambah jumlah pelanggan bisa dilakukan dengan menawarkan diskon yang menarik, tapi itu berarti marjin keuntungan per produk mungkin berkurang. Apakah maksudnya tim harus bermain dalam volume? Hal-hal seperti ini perlu diperjelas. Dan jangan lupa juga, tujuan tim kerja Anda pastinya harus selaras dengan tujuan unit kerja yang menaungi tim Anda. </span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">T</span></strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span>ime</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Suatu tujuan akan lebih baik jika memiliki kerangka waktu yang jelas. Hal ini akan memudahkan tim dalam mengukur derajat keberhasilan suatu tujuan. Misalnya, rumusan tujuan berupa “Mencapai target penjualan Rp. 3.000.000.000,-” tadi akan menjadi semakin mudah terukur keberhasilannya jika ditambah menjadi “Mencapai target penjualan Rp. 3.000.000.000,- pada akhir bulan Agustus 2007.”</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Dengan tujuan yang SMART, berarti tim kerja Anda memiliki kejelasan mengenai apa yang akan mereka capai di akhir periode. Dengan demikian, tim kerja juga bisa membentuk motivasi yang optimal untuk mencapai tujuan tersebut. </span></div>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Ciptakan tantangan</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Buatlah tantangan yang optimal bagi tim kerja dan anggota-anggotanya. Artinya, tantangan yang dibuat perlu diperhatikan tingkat kesulitannya. Jika suatu tantangan dinilai terlalu mudah, maka hanya akan dibutuhkan sedikit energi dalam menyelesaikannya dan tidak dilihat sebagai tantangan. Hal ini tidak akan meningkatkan motivasi tim kerja Anda. Sebaliknya, jika tantangan dibuat terlalu sulit, maka tim kerja akan mencapai suatu titik penurunan motivasi karena tidak ada tanda-tanda tujuan akan tercapai. Istilah psikologis untuk fenomena ini adalah learned helplessness, yaitu seseorang menjadi putus asa karena setiap usahanya tidak bisa membuahkan hasil yang diinginkan, sehingga ia tidak terdorong untuk mencoba lagi.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kebersamaan dan loyalitas</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Bangunlah kebersamaan dan loyalitas yang kuat antar anggota tim kerja. Kebersamaan dan loyalitas dapat diartikan sebagai kedekatan dan rasa kepemilikan terhadap setiap anggota tim kerja atau terhadap tim kerja itu sendiri. Kebersamaan akan sangat bermanfaat dalam tim kerja. Jika anggota tim kerja memiliki kedekatan satu sama lain maka akan lebih mudah bagi setiap orang untuk saling memberi atau menerima dukungan berupa pujian ataupun kritik. Dengan mengenal baik rekan tim kerja, kita akan mengetahui bagaimana kiranya gaya bahasa dan pola perilaku yang sesuai dalam memberikan umpan balik. Jika kebersamaan dan loyalitas ini telah terbangun melalui proses umpan balik yang baik, maka setiap anggota kelompok akan merasa ada yang peduli dan memperhatikan mereka. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan motivasi tim kerja.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Rasa bertanggung jawab</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Masih berkaitan dengan rasa kepemilikan terhadap tim kerja, anggota tim juga perlu membangun rasa bertanggung jawab yang optimal terhadap kelompok kerjanya. Rasa bertanggung jawab yang optimal akan membuat anggota kelompok merasa tidak ingin timnya mengalami kegagalan. Kondisi ini akan memotivasi mereka untuk menunjukkan kinerja lebih baik demi pencapaian tujuan tim kerja. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa rasa tanggung jawab yang berlebihan ternyata justru akan menurunkan motivasi. Motivasi yang dilandasi oleh rasa takut berlebihan akan berubah menjadi teror, yang akhirnya dapat membuat seseorang enggan menunjukkan kinerjanya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Berkembanglah bersama</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Ketika semua anggota tim merasa mereka bergerak bersama, belajar bersama, menambah kemampuan bersama, dan sama-sama menyamakan pemikiran kelompok, maka hal ini akan memacu motivasi karena anggota kelompok merasa memiliki kemampuan, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Usahakan juga agar tiap anggota tim mempersepsi bahwa setiap usaha yang mereka keluarkan akan menghasilkan keuntungan yang sama perbandingannya dengan usaha dan keuntungan yang diterima anggota lain. Dengan demikian, tidak ada kecemburuan yang berkembang di dalam tim kerja dan motivasi bekerja bisa meningkat. Satu langkah awal yang bisa dicoba untuk menciptakan rasa berkembang bersama adalah dengan mengikuti kegiatan belajar atau pengembangan bersama dan kemudian menerapkannya bersama-sama dalam tim kerja. Cobalah berdiskusi dengan rekan-rekan tim kerja Anda mengenai pelatihan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja tim dan kemudian ikuti pelatihan tersebut bersama-sama untuk kemudian juga bersama-sama menerapkannya di dunia pekerjaan sehari-hari. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kepemimpinan</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Mungkin sekaranglah saatnya Anda maju dan memimpin misi me“re-motivasi” tim kerja Anda. Jadilah anggota tim yang berinisiatif mengajak rekan tim lainnya untuk menyadari pentingnya tujuan kelompok, menciptakan tantangan untuk tim, menggalang kebersamaan dan loyalitas tim, membentuk rasa tanggung jawab terhadap tim, dan berkembang bersama dalam tim. Ajak rekan-rekan untuk berdiskusi mengenai kinerja tim secara keseluruhan, dan juga untuk saling memberi umpan balik mengenai kinerja masing-masing orang. Tularkan antusiasme dan motivasi Anda kepada rekan lain. Dengan memulai demam motivasi ini, tanpa Anda sadari Anda telah mengobarkan motivasi pribadi Anda. Kemudian, rekan-rekan tim kerja Anda juga akan terbawa oleh hangatnya semangat yang Anda hembuskan. Akhirnya, seluruh anggota tim akan menyadari pentingnya motivasi tim kerja dan mau bekerja bersama untuk meningkatkan motivasi tim kerja.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Selamat mencoba!</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/30/maju-terus-pantang-mundur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun ke 4 blog.beoco.or.id</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/23/tahun-ke-4-blog-beoco-or-id/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/23/tahun-ke-4-blog-beoco-or-id/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 06:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama menulis di blog ini sudah banyak sekali desain dan tampilan yang digunakan, pindah -pindah Lokasi Server dari yang Gratisan sampai yang berbayar dan menggunakan VPS ,  tanpa terasa sudah menginjak tahun ke Empat dalam pengelolaan website ini dan akan diperpanjang kelangsungan nya selama mungkin untuk menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah sekian lama menulis di blog ini sudah banyak sekali desain dan tampilan yang digunakan, pindah -pindah Lokasi Server dari yang Gratisan sampai yang berbayar dan menggunakan VPS ,  tanpa terasa sudah menginjak tahun ke Empat dalam pengelolaan website ini dan akan diperpanjang kelangsungan nya selama mungkin untuk menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi umat manusia,</p>
<p>Sejarah dari website ini juga penuh dengan perjuangan dari soal mendapatkan domain sampai dengan pengelolaanya sejak dimulai dari masa kuliah tahun 2007 dan saat ini tahun 2011,  akhir-akhir ini setelah masuk dunia kerja agaknya terasa malas dalam menulis mungkin sudah jauh dari dunia mengetik yang menyebabkan sudah bosen dalam mengarang sebuah tulisan tetapi hal ini harus dilawan dengan tetap menulis dan berkarya menciptakan informasi / pengetahuan hal baru yang saya coba untuk di sebarkan ke para pembac.</p>
<p>Atas perhatiannya para pembaca yang setia mengunjungi website ini saya ucapkan banyak terima kasih semoga informasi yang ada dapat bermanfaat untuk kita semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam</p>
<p>Aan Farianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/23/tahun-ke-4-blog-beoco-or-id/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat-kiat Bertemu Calon Mertua</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/kiat-kiat-bertemu-calon-mertua/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/kiat-kiat-bertemu-calon-mertua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Saat hubungan Anda dan si dia telah serius, kinilah saatnya bertemu orangtuanya. Tapi jangan sampai pertemuan yang penting ini membuat hubungan yang telah Anda jalin justru berakhir berantakan. Tak ingin gagal? Baca dulu kiat-kiat berikut. Waktu Waktu yang tepat adalah segalanya. Memilih waktu yang salah hanya akan membuat rencana Anda dan pasangan berantakan. Konsultasikan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat hubungan Anda dan si dia telah serius, kinilah saatnya bertemu orangtuanya. Tapi jangan sampai pertemuan yang penting ini membuat hubungan yang telah Anda jalin justru berakhir berantakan. Tak ingin gagal? Baca dulu kiat-kiat berikut.<br />
<span id="more-109"></span><br />
<strong>Waktu<br />
</strong>Waktu yang tepat adalah segalanya. Memilih waktu yang salah hanya akan membuat rencana Anda dan pasangan berantakan. Konsultasikan dengan kekasih, kapan orangtuanya memiliki waktu luang, sehingga dengan sendirinya, suasana hati mereka pun tengah baik.</p>
<p><strong>Kenali lebih dalam</strong><br />
Cari tahu &#8220;nilai-nilai&#8221; apa yang berlaku di keluarga kekasih. Hal ini akan membuat Anda lebih mudah untuk berbaur dengan orangtuanya. Jangan sampai perbedaan nilai membuat Anda dinilai tidak sopan oleh mereka. Sesuaikan diri Anda dengan baik.<br />
<strong><br />
Tempat</strong><br />
Tempat bertemu juga memengaruhi kesuksesan pertemuan. Hindari tempat yang terlalu ramai dan bising yang bisa membuat orangtua kekasih merasa tidak nyaman. Lebih baik pilih tempat yang nyaman, seperti sebuah kafe keluarga dengan alunan musik balada atau jazz yang lembut. Suasana tenang juga akan membuat hati menjadi senang.</p>
<p><strong>Tepat waktu<br />
</strong>Jangan sampai kesan pertama diri Anda rusak hanya karena datang terlambat. Lebih baik datang lebih dulu demi menghormati orangtua kekasih.</p>
<p><strong>Hadiah</strong><br />
Tak ada salahnya membawa hantaran sederhana untuk menyenangkan orangtua kekasih. Diskusikan lebih dahulu dengan kekasih, hadiah apa yang paling tepat diberikan. Hal ini dapat memperlihatkan perhatian Anda pada keluarga kekasih.</p>
<p><strong>Penampilan</strong><br />
Jangan lupa mempersiapkan penampilan Anda. Tampil seksi sangat tidak disarankan. Lebih baik gunakan pakaian yang sederhana, namun tetap terlihat elegan. Terusan sepanjang lutut, atau paduan kemeja dan celana jeans bisa menjadi pilihan yang tepat. Tata rambut juga harus diperhatikan. Pilihlah tatanan rambut yang rapi dan apik. Pilihlah tema warna make-up yang lembut dan natural sehingga penampilan tak tampak berlebihan. Hindari juga memakai terlalu banyak aksesori. Lebih baik pilih tampilan aman dan sederhana.</p>
<p><strong>Topik pembicaraan<br />
</strong>Hati-hati memilih topik pembicaraan. Pilihlah topik yang netral tanpa menyudutkan pihak manapun (misalnya bertema SARA). Jangan lupa juga tunjukkan keahlian Anda, misalnya bicarakan prestasi di bidang pekerjaan. Hal ini akan menjadi nilai plus yang tepat. Tapi hati-hati ya, jangan sampai Anda justru terkesan sombong dan angkuh.<br />
<strong><br />
Memuji</strong><br />
Jangan lupa untuk memuji. Carilah kelebihan orangtua pasangan, dan ungkapkan kekaguman Anda. Berikanlah pujian dengan tulus. Pujian palsu hanya akan membuat Anda terlihat dan terdengar munafik.</p>
<p>Semoga sukses!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/kiat-kiat-bertemu-calon-mertua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Wanita Lajang Dilarang Konsumsi Pisang Ambon</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/alasan-wanita-lajang-dilarang-konsumsi-pisang-ambon/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/alasan-wanita-lajang-dilarang-konsumsi-pisang-ambon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai wanita lajang, tentu banyak aturan dan mitos yang selalu ada di sekitar kehidupan kita. Namun, beberapa mitos, ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah. Itulah sebabnya pelarangan tersebut memang seharusnya dipatuhi. Larangan makan buah pisang ambon bagi seorang yang masih gadis misalnya. Pakar gizi Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, dalam perbincangan ringannya dengan Republika, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai wanita lajang, tentu banyak aturan dan mitos yang selalu ada di sekitar kehidupan kita. Namun, beberapa mitos, ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah. Itulah sebabnya pelarangan tersebut memang seharusnya dipatuhi.<span id="more-106"></span></p>
<p>Larangan makan buah pisang ambon bagi seorang yang masih gadis misalnya. Pakar gizi Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, dalam perbincangan ringannya dengan Republika, menjelaskan alasan ilmiah dibalik pelarangan ini. “Pisang ambon itu punya zat yang membuat libido tinggi,” ujarnya.</p>
<p>Jika terlalu banyak mengonsumsi pisang ambon, bagi seorang gadis, akan berbahaya, karena libidonya akan naik. Padahal statusnya masih gadis, sehingga tak bisa menyalurkan hasrat seksualnya. &#8220;Jika sudah menikah, libido tinggi tak akan menjadi masalah, namun ketika masih gadis, ini menjdi problem tersendiri. Jadi lebih baik kurangi saja,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sumber : Republika, Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/alasan-wanita-lajang-dilarang-konsumsi-pisang-ambon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpikir Lebih Tepat Sasaran</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/berpikir-lebih-tepat-sasaran/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/berpikir-lebih-tepat-sasaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 22:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Hidup ini semestinya sederhana, namun pada akhirnya dirasa menjadi rumit ketika kita menyadari ada banyak hal bermain di dalamnya. Pada dasarnya, dunia kita memang merupakan sebuah sistem yang sarat dengan interdependensi. Manusia dan kejadian saling terkait satu sama lain. Apa yang kita lakukan akan membawa berbagai dampak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Jika kita memahaminya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Hidup ini semestinya sederhana, namun pada akhirnya dirasa menjadi rumit ketika kita menyadari ada banyak hal bermain di dalamnya. Pada dasarnya, dunia kita memang merupakan sebuah sistem yang sarat dengan interdependensi. Manusia dan kejadian saling terkait satu sama lain. Apa yang kita lakukan akan membawa berbagai dampak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Jika kita memahaminya dan bisa memandang dunia dengan cara seperti ini, maka kita bisa lebih sadar akan peran dan tanggung jawab kita di dalam sistem tersebut. Pemahaman itu juga akan membantu kita lebih cermat dalam menghadapi masalah. </span></p>
<p><span id="more-98"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Mengapa kita perlu lebih cermat menghadapi masalah? Karena seringkali kita sekedar menangkap permasalahan hanya di permukaan dan segera mencari penyelesaian instan tanpa menyadari adanya penyebab-penyebab yang lebih mendasar. Ini seperti kebiasaan minum obat pereda pusing setiap kali sakit kepala tanpa mencari tahu apa sebenarnya yang membuat kita sering mengalami sakit kepala. Akibatnya, penyebab sakit kepala tidak ditemukan, dan penggunaan berlebihan terhadap obat pereda sakit (yang hanya mengurangi gejala) justru bisa menimbulkan masalah lain. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Cobalah untuk berpikir lebih tepat. Temukan dan kaji akar penyebab permasalahan agar kita dapat mengatasinya dan sekaligus melenyapkan gejala-gejala yang mengikutinya. Kalau misalnya sesudah melakukan pemeriksaan kesehatan diketahui bahwa penyebab sakit kepala adalah masalah pada gigi, maka dengan menyelesaikan masalah gigi ini kita memperoleh solusi atas dua hal sekaligus: penyakit pada gigi, dan juga sakit kepala yang sebetulnya hanyalah gejala dari adanya masalah gigi. Artinya, dengan cara berpikir yang lebih tepat sasaran, kita bisa mengambil langkah konstruktif terhadap akar masalah  dan sekaligus menyelesaikan berbagai masalah lain yang menyertai. Jadi, dengan satu langkah efektif, kita membawa perbaikan besar di sana-sini secara sekaligus.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tapi kenapa ya, kita masih saja sering saja terjebak dalam keinginan mengambil solusi pintas? Akibatnya, masalah datang kembali dan lagi-lagi kita jadi pusing menanganinya. Bagaimana caranya supaya lebih cermat? </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Begini caranya. Ada situasi-situasi yang terjadi <strong>berulangkali</strong> dalam kehidupan kita. Kalau kita mau meluangkan waktu untuk menelitinya, kita akan terbantu untuk melihat mekanisme interaktif di balik situasi itu dan latar belakang yang mendasari suatu masalah. Kita juga bisa menemukan pola tindakan yang sering kita ambil dalam mengatasi masalah-masalah tertentu dan dapat menemukan apa yang menjadi “kebiasaan” kita dalam menyelesaikan masalah. Nah, meskipun satu dua kali ”kebiasaan” tersebut memberi jalan keluar, sadarilah bahwa ”kebiasaan” itu <strong>tidak selalu</strong> menjanjikan hasil yang efektif. Oleh karenanya, kita perlu menyiasati agar tidak terjebak dalam pola yang “biasa” digunakan dalam menganalisis dan memecahkan masalah. Mari kita lihat beberapa kebiasaan yang biasa terjadi dan cara mengatasinya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>1. Solusi Yang Bukan Solusi</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Mungkin sudah jadi kecenderungan manusia untuk segera bereaksi terhadap gejala (simtom) yang menyebabkan ketidaknyamanan dengan mencari pereda secara instan. Kita selalu ingin cepat-cepat terbebas dari rasa sakit atau tidak rasa tidak menyenangkan itu.  Jika kemudian solusi yang diambil tampak berhasil menyelesaikan gejala (simtom), maka muncul suatu perasaan lega (meski inti masalahnya belum tentu terpecahkan) dan kita merasa berhasil menyelesaikan masalah. Padahal, akar masalah tetap ada dan di waktu lain memunculkan gejala (simtom) yang sama atau bahkan lebih buruk. Dan biasanya, lagi-lagi kita mengulangi solusi instan yang pernah kita ambil karena sudah yakin akan efektivitasnya.  </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Agar terhindari dari kebiasaan yang satu ini, sadarilah bahwa penyelesaian pintas hanya mengurangi gejala untuk sementara. Kita tetap harus berusaha menemukan solusi yang sesungguhnya. Jadi, kalau Anda menghadapi kesulitan, luangkan waktu untuk meneliti inti permasalahan dan selesaikanlah masalah ke akar-akarnya. Ya, penyelesaian ”rasa sakitnya” mungkin jadi sedikit tertunda, tapi tindakan itu mencegah munculnya masalah yang sama di kemudian hari. Seperti pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nah! </span></p>
<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>2. ”Lempar Monyet”</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/121b.gif" alt="" width="129" height="150" align="left" hspace="12" />Istilah ini sering kita dengar, melempar masalah pada orang lain agar kita merasa lega. Minta teman menyelesaikan tugas yang tidak kita kuasai, misalnya. Alasannya sih minta bantuan supaya tugas terselesaikan dengan baik. Tapi jika selalu begitu, kapan kita akan belajar menguasai tugas tersebut? Setiap kali ada tugas serupa, kita harus mencari teman yang bisa dimintai tolong. Ya kalau mereka punya waktu, kalau tidak? Atau bahkan kadang-kadang, kita yang ”mengambil monyet” agar masalah cepat selesai. Kalau bawahan seringkali melakukan kesalahan, kadang kita mengambil jalan pintas: mengerjakannya sendiri. Sama saja dengan sebelumnya, tugasnya mungkin selesai dengan baik, tapi apakah si bawahan lantas meningkat kompetensinya? Apa seumur-umur kita mau mengambil alih tugas dia? </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">”Melempar monyet” memang cara yang paling mudah, dan karena mudah kita jadi senang mengulanginya. Sekali lagi, jangan malas untuk mencari akar masalah. Kalau masalahnya kemampuan, ya selesaikan masalah kemampuan itu, jangan lantas pekerjaannya yang dilempar atau diambil alih. Atau, kalau kondisinya menuntut kita untuk mengatasi gejalanya terlebih dahulu, maka hal ini tetap harus diupayakan bersamaan dengan pencarian solusi yang mendasar. Jadi, kalau keadaannya mendesak maka tugas bawahan boleh saja kita ambil alih, tapi tetap kita harus melatih bawahan agar kelak ia mampu mengerjakannya sendiri. Kira-kira seperti merawat orang demam, selain mengkompres kepalanya, kita juga harus tetap mencari penyembuhan yang tepat. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>3. Mengubah Sasaran</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Coba lakukan introspeksi, kadang-kadang betapa mudahnya kita menurunkan sasaran saat terasa sulit untuk mencapainya. Ketika kenyataan kurang mendukung, bukan usaha yang kita kerahkan, tapi ambisi yang kita kutak-katik. ”Ah sudahlah, proyek ini kita selesaikan tahun depan saja, sepertinya kita kekurangan orang.” Terasa lebih lega <em>kan</em>? Kita enggan pusing-pusing mencari jalan keluar mengatasi masalah kekurangan tenaga. Kalau cara ini sering kita ulang, tanpa kita sadari, bukan sasarannya saja yang semakin rendah, kinerja kita pun akan semakin rendah. Kita tidak pernah lagi memacu diri dengan sasaran-sasaran yang prestatif.<br />
<img src="http://www.lptui.com/upload/images/121c.gif" alt="" width="96" height="84" align="left" hspace="12" /><br />
Nah, supaya tidak terjadi revisi begitu saja terhadap sasaran, maka pertama kali kita harus tahu betul mengapa kita menetapkan sasaran seperti itu. Kita harus yakin betul bahwa sasaran itu memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Misalnya, kalau batas akhir penyelesaian proyek kita yakini sebagai representasi kepercayaan klien pada perusahaan kitamaka kita tidak akan mudah menyerah begitu saja dengan masalah-masalah sumberdaya. Kita bisa mencari tambahan orang dari luar, misalnya. Di sini memang perlu analisis yang tajam terhadap sasaran kita. Ada beberapa ambisi yang kelihatannya keren namun sulit untuk direalisasikan, atau sesungguhnya tidak terlalu penting.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>4. Eskalasi</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Eskalasi adalah masalah yang menjadi semakin besar atau semakin serius. Ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Satu pihak melakukan sesuatu yang dipandang mengancam, lalu pihak lain berusaha merespons ancaman ini dengan tindakan lain yang juga dianggap sebagai ancaman oleh pihak pertama, dan begitu seterusnya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Perang harga misalnya. Warung gado-gado Bu Siti menawarkan harga lebih murah untuk satu porsi gado-gado dan teh hangat. Merasa terancam, Mpok Leha menawarkan harga yang lebih murah lagi untuk menu yang sama. Karena ”panas”, Bu Siti mengurangi lagi harga si gado-gado. Dan seterusnya sampai akhirnya Bu Siti maupun Mpok Leha harus mengurangi bahan-bahan gado-gadonya. Mula-mula telur rebus yang menjadi separuh, lalu seperempat, lalu menghilang. Kemudian diikuti dengan besarnya porsi yang berkurang, teh hangat yang berubah jadi air putih, emping renyah yang menjadi krupuk murahan, dan seterusnya. Ketika kualitas terus menurun, orang tidak akan mendapatkan lagi gado-gado yang nikmat. Dan akhirnya, Bu Siti maupun Pok Leha akan kehilangan pelanggan. Nah, mengapa Bu Siti dan Mpok Leha pernah melihat cara itu sebagai cara yang tepat? Karena cara itu terasa melegakan dan sepertinya efektif. Mpok Leha bisa merasakan kepuasan karena bisa mematahkan ancaman dari Bu Siti, dan mungkin saja pelanggannya bertambah karena mereka tentu mencari harga yang lebih murah. Tapi lama kelamaan langkah menurunkan harga justru memunculkan masalah yang lebih besar, penurunan kualitas. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Untuk mengatasi eskalasi, kita harus mau menelusuri dan menguji asumsi yang mendasari persepsi kita tentang ancaman pihak lain. Benarkah diri kita terancam oleh pihak lain? Apa betul pihak itu punya niat menghancurkan kita? Apakah sebenarnya yang menjadi permasalahan kita? Barangkali perkara gado-gado tadi sebetulnya sekedar masalah efisiensi. Bu Siti bisa memberi harga lebih murah mungkin karena sayur-sayuran datang dari kebunnya sendiri. Mpok Leha bisa mempertahankan pelanggan misalnya dengan membuat warungnya bersih, nyaman, dan ada teve. Jadi, bukan gado-gadonya yang jadi sasaran. Bahkan bukan tidak mungkin Bu Siti dan Mpok Leha berkolaborasi membuat warung gado-gado yang lebih besar.  </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>5. Tragedi Sumberdaya Berlimpah</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/121d.gif" alt="" width="102" height="112" align="left" hspace="12" />Apa pula ini? Untuk mudahnya, bayangkan sebuah pesta dengan hidangan cara prasmanan. Seringkali orang cenderung mengambil sebanyak mungkin makanan tanpa memikirkan orang lain juga mungkin ingin mengambil makanan tersebut. Bahkan kadang kita tidak mengukur apakah kita sanggup menghabiskannya. Begitu kelihatan enak, ambil sebanyak-banyaknya. Semestinya kita cukup mengambil makanan sekedar memadai untuk bisa kita makan. Nah, ketika tersedia sumberdaya berlimpah, kita punya kecenderungan menggunakannya seenak udel. Misalkan, karena mudah minta stok kertas di kantor, kita jadi terbiasa menggunakan kertas seenaknya. Begitu stok menipis dan anggaran sudah keburu habis, kelimpunganlah kita semua. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Agar tidak terjebak pada kebiasaan ini, kita perlu membuat supaya semua orang merasa isyu tersebut adalah isyu yang harus dipikirkan bersama dan diatasi bersama. Semua mesti menyadari bahwa kelimpahan itu sifatnya tidak langgeng dan ada pihak-pihak lain yang juga berkepentingan. Jadi, masing-masing mesti memikirkan dampak perbuatannya pada pihak lain. Cara lain adalah dengan mengalokasikan bagian-bagian sumberdayaitu kepada tiap orang dan minta mereka bertanggung jawab atas penggunaannya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Nah, demikianlah lima kebiasaan pikir yang sebaiknya ditinggalkan: 1) jangan berpikir bahwa solusi instan akan menuntaskan masalah, 2) jangan berpikir masalah akan selesai jika dipindahkan pada orang lain, 3) jangan berpikir menurunkan sasaran adalah satu-satunya cara untuk keluar dari masalah, 4) jangan berpikir curiga bahwa sesuatu adalah ancaman untuk kita, dan 5) jangan berpikir kita boleh menghambur-hamburkan sumberdaya milik sama yang tampaknya berlimpah. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tentu masih ada kebiasaan-kebiasaan berpikir lain yang perlu kita perbaiki, tapi setidaknya dengan memperbaiki lima hal ini saja, hidup Anda akan menjadi lebih baik!</span></p>
<p align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><em>Disadur dari buku Big Fish Eat Small Fish, Lenses to See The World<br />
(Low Guat Tin, Ng Pak Tee, Janice Baruch, 2003)</em></span></p>
<p style="text-align: left;" align="right">Sumber : <a href="http://www.lptui.com/artikel.php?fl3nc=1&amp;param=c3VpZD0wMDAyMDAwMDAwODkmZmlkQ29udGFpbmVyPTY2&amp;cmd=articleDetail">LPTUI</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/berpikir-lebih-tepat-sasaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penampilan Anda pun Bicara</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/penampilan-anda-pun-bicara/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/penampilan-anda-pun-bicara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 22:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Coba dengar pembicaraan antara dua orang peserta seminar yang sedang memperhatikan para pembicara yang duduk di panggung. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penampilan merupakan salah satu acuan yang digunakan untuk menilai orang lain. Apalagi jika orang yang dihadapi sama sekali tidak dikenal, penampilan sering menjadi acuan utama. Dengan melihat bentuk tubuh, wajah, gerak-gerik, tata rias, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Coba dengar pembicaraan antara dua orang peserta seminar yang sedang memperhatikan para pembicara yang duduk di panggung.</span></p>
<table width="200" border="0">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2.gif" alt="2" width="503" height="203" align="bottom" /></span></td>
<td valign="top"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2a.gif" alt="1" width="97" height="83" /></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penampilan merupakan salah satu acuan yang digunakan untuk menilai orang lain. Apalagi jika orang yang dihadapi sama sekali tidak dikenal, penampilan sering menjadi acuan utama. Dengan melihat bentuk tubuh, wajah, gerak-gerik, tata rias, gaya berpakaian atau tata rambut, bisa timbul berbagai kesan mulai dari yang positif sampai negatif. Di sinilah terjadi proses persepsi sosial, yang oleh Baron dan Byrne (1994) didefinisikan sebagai proses yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mencari informasi tentang orang lain.</span></p>
<p align="justify"><span id="more-96"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Persepsi terhadap penampilan fisik sering diasosiasikan dengan karakteristik-karakteristik lain seperti kepribadian atau bahkan kompetensi. Lebih jauh lagi, kesan yang muncul dapat memiliki pengaruh yang kuat bagi suatu hubungan interpersonal. Richmond, McCrockey dan Payne (1991) menyatakan bahwa ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, kita cenderung melihat penampilan fisiknya dan kesan yang diperoleh dapat mempengaruhi bagaimana interaksi yang terjadi di masa datang. Kadang hanya dari penampilan seseorang, kita bisa mempunyai kesan yang begitu “kuat” terhadap orang tersebut sampai-sampai kita melupakan kualitas-kualitas lain yang ada pada dirinya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Salah satu hal yang dikaitkan dengan penampilan adalah <strong>gaya berbusana</strong>. Cara berpakaian menjadi penting ketika seseorang harus tampil di depan umum, bertemu dengan orang banyak atau berhadapan dengan orang-orang tertentu yang punya kedudukan penting atau disegani. Oleh karena itu “<strong>siapa orang yang akan ditemui</strong>” akan banyak menentukan pakaian seperti apa yang layaknya dipilih. Selain itu ada juga hal-hal yang juga tidak kalah penting dan perlu diperhatikan dalam berbusana:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Ciri-ciri fisik pribadi</strong> (bentuk tubuh, warna kulit, bentuk wajah)</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Situasi / acara</strong> (formal/semi formal/santai)</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Cuaca dan suhu</strong> (jangan sampai ada kesan BPAG “ Biar Panas Asal Gaya”)</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kebiasaan atau budaya setempat</strong></span></li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Semakin seseorang mampu berbusana secara tepat dan serasi, ia akan semakin dihargai dan tentunya kepercayaan dirinya akan meningkat. Sayangnya tidak semua orang memiliki selera yang baik dalam berpakaian dan tidak semua orang peduli dengan penampilannya. Padahal, setiap orang punya kesempatan dan bisa belajar untuk lebih pandai dan bijak dalam berbusana. Melalui pengalaman, kepedulian terhadap diri, dan keterbukaan terhadap tren berbusana serta saran-saran dari orang-orang di sekitarnya, lama-kelamaan selera berbusana seseorang akan semakin baik.<br />
<img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2b.gif" alt="3" width="136" height="151" align="left" hspace="12" /><br />
Apakah Anda bekerja sebagai seorang profesional? Nah, Anda perlu memperhatikan tata cara berpakaian yang juga bisa menjadi salah satu cerminan profesionalisme. Jangan berpikir bahwa hanya cara berbicara, cara berpikir atau cara bekerja kita saja yang diperhatikan oleh para klien. Tanpa kita sadari, sangat mungkin klien memperhatikan bagaimana cara kita berbusana dan mulai membangun citra tertentu di benak mereka, yang bisa saja positif tapi bisa juga negatif. Nah, citra negatif itulah yang mesti kita hindari. Ekstrimnya, jangan sampai kita kehilangan peluang hanya karena klien merasa tidak “sreg” dengan penampilan kita.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Berikut ini beberapa tips praktis, yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan acuan bagi kita semua.</span></p>
<ol>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kenali <strong>kepribadian</strong> kita. Pilih busana yang <em>chic</em> dan <em>trendy</em> tapi juga mencerminkan karakter pribadi. Tentu saja kita perlu menyesuaikan pakaian dengan aktivitas yang dilakukan, tapi jangan juga menggunakan pakaian yang membuat kita sendiri menjadi gelisah karena tidak nyaman mengenakannya. Misalnya, Anda lebih suka pakaian bergaya etnik ketimbang menggunakan setelan rok dan <em>blazer</em> formal. Nah, seandainya keadaan menghendaki Anda menggunakan baju formal itu, Anda bisa mengambil jalan tengah dengan menggunakan blus dalam dari bahan etnik, atau kompensasikan dengan menggunakan syal atau asesoris bercorak etnik yang sepadan. Jadi, Anda tidak sama sekali kehilangan ”warna” Anda. Jangan lupa untuk menyesuaikan busana yang dipilih dengan <strong>warna kulit, bentuk wajah, dan bentuk tubuh.</strong></span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Untuk bekerja sehari-hari, sesuaikan busana dengan <strong>lingkungan kerja</strong>. Pastikan busana yang dipilih nyaman untuk dikenakan tapi tidak menyalahi peraturan di tempat kerja. Kalau pun tidak ada peraturan tertulis, tangkap citra apa yang ingin ditampilkan perusahaan dan cobalah menyesuaikan diri karena kita merupakan bagian penting yang akan membawa citra perusahaan. Kemeja Hawaii dengan celana <em>jeans</em> tentu membawa pesan berbeda dari stelan celana panjang dari bahan kain dengan kemeja berdasi. Supaya tidak ”salah kostum”, kalau Anda ragu tanyakan pada Bagian SDM bagaimana seharusnya gaya berpakaian di perusahaan Anda.</span></div>
</li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2c.gif" alt="4" width="120" height="132" align="right" hspace="12" /></span>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kalau kita banyak berinteraksi dengan klien, sesuaikan busana kita dengan <strong>gaya klien</strong> yang akan dihadapi. Kalau klien lebih suka bergaya semi formal atau cenderung informal, jangan gunakan setelan yang terlalu formal karena justru akan mengesankan ada jarak antara kita dan klien. Oleh karena itu, pandai-pandailah mencari informasi tentang klien-klien Anda. Kalau Anda tidak cukup memiliki informasi, pilih yang kira-kira netral atau bisa segera Anda sesuaikan. Misalnya, gunakan blus dalam berlengan di balik <em>blazer</em> Anda. Jika ternyata klien Anda bergaya semi formal, sebelum pertemuan Anda bisa melepas <em>blazer</em> di toilet. Kemudian di ruang pertemuan, sampirkan <em>blazer</em> di pegangan kursi dengan rapi (jangan di punggung kursi!).</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Miliki koleksi pakaian dengan <strong>warna-warna</strong> ”aman”. Seringkali kita tidak memiliki cukup informasi gaya busana seperti apa yang bisa diterima klien atau rekanan bisnis, sehingga kita perlu memiliki koleksi busana yang netral untuk segala suasana. Warna-warna dasar yang wajib dimiliki adalah biru tua (<em>navy blue</em>), hitam, putih, coklat, abu-abu tua (<em>charcoal grey</em>), dan coklat kehijauan (<em>khaki</em>). Pilih setelan dengan warna-warna itu, baru tambahkan warna cerah atau terang sebagai pelengkap. Warna-warna yang “pantang” untuk dipadukan antara lain coklat dengan biru, ungu dengan merah.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Sepatu dan tas merupakan pelengkap yang pasti diperlukan untuk bekerja. Miliki minimal dua pasang <strong>sepatu kerja</strong>, warna hitam dan coklat tua. Untuk wanita, sepatu warna krem sedikit kecoklatan (<em>beige</em>) juga bisa digunakan. Pilih bahan dari kulit agar tahan lama, nyaman dipakai, dan tampilannya cukup baik. Untuk wanita, tinggi hak sepatu yang baik kira-kira 1,5 – 2 inci dan jangan menyulitkan kita berjalan. Sepatu mesti bersih dan warnanya tidak kusam. Dalam pertemuan dengan klien atau acara formal lainnya, jangan kedapatan Anda lepas sepatu! Selain itu, miliki <strong>tas kerja</strong> berwarna netral seperti hitam, coklat, atau krem kecoklatan (<em>beige</em>) agar mudah dipadu padankan dengan beragam warna pakaian.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kalau kita dengan rekan lain mewakili perusahaan untuk suatu aktivitas, jangan lupa untuk menjaga agar <strong>penampilan tim</strong> kita tampak serasi. Misalnya, sepakati apakah mau bergaya busana formal atau semi formal, apakah akan berkemeja lengan panjang atau lengan pendek, apakah akan mengenakan dasi atau tidak.   </span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Ada beberapa hal yang sebaiknya <strong>dihindari</strong> di lingkungan kerja formal:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Pakaian: <em>jeans</em>, <em>T-shirt</em>, busana berbahan tipis atau ketat, rok yang terlalu pendek, busana luar yang tidak berlengan, hanya berkerah halter atau bertali pundak, baju atau blus luar model ”kemben”, <em>legging</em>, celana ¾, celana berbahan <em>spandex</em>, celana <em>hipster</em> dengan blus yang terlalu pendek </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Motif atau cetakan pada pakaian: hindari kata-kata, logo, atau gambar yang potensial memancing rasa antipati</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Alas kaki: sepatu sandal atau sepatu tali terbuka, <em>boot</em>, sepatu olahraga, selop </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Perhiasan: <em>body piercing,</em> cincin yang terlalu banyak (Anda kan bukan pelawak Tesi!), jam tangan yang kelonggaran, gelang yang bergemerincing, anting panjang </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Riasan: <em>eyeshadow</em> biru, cat kuku bercorak atau dengan <em>glitter</em> </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Wewangian (parfum, <em>hair spray</em>): yang baunya terlalu kuat (jangan lupa, mungkin saja rekan kerja atau klien Anda punya alergi terhadap bau menyengat)</span></li>
</ul>
<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Namun demikian ada juga lingkungan kerja yang ingin memberi ciri khas tertentu sehingga ”aturan” di atas tidak lagi mengikat, misalnya perusahaan periklanan dan <em>creative agency</em> yang barangkali ingin memunculkan kesan dinamis dengan gaya busana yang cenderung informal.</span></p>
</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2d.gif" alt="5" width="95" height="87" align="left" hspace="12" />Mode selalu berubah, bisa jadi standar busana kantor juga berubah. Oleh karena itu, kembangkan terus kepekaan Anda dalam berpakaian. Bacalah referensi tentang tips berbusana kerja. Kunjungi toko-toko yang menjual pakaian kerja dan perhatikan busana yang dikenakan pada manekin. Juga tidak ada salahnya Anda meminta saran ahli. Mungkin biayanya memang terasa mahal, tapi Anda bisa memperoleh banyak bekal yang berguna untuk jangka waktu panjang. Dan jangan lupa, tanyakan pada atasan atau Bagian SDM perusahaan Anda, seperti apa tata cara berpakaian yang dikehendaki perusahaan. Nah, <em>you don’t have to be a model to look fashionable!</em></span></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><em><a href="http://www.lptui.com/artikel.php?fl3nc=1&amp;param=c3VpZD0wMDAyMDAwMDAwOGYmZmlkQ29udGFpbmVyPTY2&amp;cmd=articleDetail">Sumber : LPTUI</a></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/penampilan-anda-pun-bicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Self Awareness: Langkah awal menuju adaptasi emosi</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/self-awareness-langkah-awal-menuju-adaptasi-emosi/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/self-awareness-langkah-awal-menuju-adaptasi-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 22:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[“Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!” “Jangan begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup” “Tapi cuma dia yang bisa membuatku bahagia” “Masih ada pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya” “Aku tidak peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!” Percakapan singkat di atas adalah penggalan adegan dari sebuah sinetron [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span style="color: #660000;">“Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Aku tidak berguna!”</span><br />
<span style="color: #000066;">“Jangan begitu, masih banyak yang bisa kamu lakukan dalam hidup”</span><br />
<span style="color: #660000;">“Tapi cuma dia yang bisa membuatku bahagia”</span><br />
<span style="color: #000066;">“Masih ada pria-pria lain yang pasti lebih baik darinya”</span><br />
<span style="color: #660000;">“Aku tidak peduli! Pokoknya hidupku sekarang sudah tak berarti lagi!”</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Percakapan singkat di atas adalah penggalan adegan dari sebuah sinetron di televisi. Kisah klise tentang seorang wanita yang ditinggal pergi pasangan yang sangat dicintainya. Banyak alasan kenapa sang pria pergi. Bisa jadi karena bekerja di lain kota, selingkuh dengan wanita lain, atau bahkan meninggal dunia karena tertular penyakit langka. Yang jelas, sepeninggal pria ini, sang wanita merasa kehilangan jati diri. Ia terlarut dalam emosi kesedihan yang mendalam hingga ia pun merasa hidupnya telah berakhir. </span></p>
<p align="justify"><span id="more-93"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Pernahkah Anda mengalami hal yang serupa? Mungkin bukan kasus putus cinta, namun kasus-kasus lain dimana Anda sulit menanggulangi emosi Anda sendiri. Salah satu kasus sederhana yang sering terjadi adalah ketika berkendara di jalan raya. Seberapa sering Anda merasa ”tersinggung” ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalur Anda, hingga kemudian Anda tancap gas untuk kembali menyusul kendaraan tersebut? Atau pernahkah Anda memaki-maki supir kendaraan umum yang seenaknya menghentikan kendaraan di tengah jalan untuk menaikkan penumpang? Atau kejadian emosional lain di situasi yang berbeda, misalnya di kantor. Di tengah kekalutan mendekati <em>deadline</em> kerja, biasanya apa yang Anda lakukan? Tak henti-henti mengumpat karena atasan Anda justru menambah beban kerja? Memarahi staf Anda karena sepertinya mereka malah kerja berlambat-lambat? Ataukah justru Anda bolos kerja karena tidak kuat lagi menghadapi tekanan di kantor? Tanpa disadari, ternyata emosi banyak sekali mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita sama-sama telusuri dulu apa yang dimaksud dengan emosi.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Emosi</strong> merupakan suatu reaksi mental dan psikologis yang muncul secara spontan ketika seseorang berhadapan dengan suatu kondisi. Misalnya, ketika seseorang menjalani hari pertamanya berkerja sebagai sekretaris, maka wajar jika ia merasa senang karena mendapat pekerjaan, sekaligus merasa takut melakukan kesalahan mengetik. Lebih lanjut, terdapat empat jenis <strong>emosi dasar</strong> yaitu:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Senang</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Sedih</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Marah</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Takut</span></li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Keempat emosi ini kemudian berkembang menjadi berbagai emosi seperti cemas, malu, jijik, dan sebagainya. Emosi sendiri sebenarnya <strong>tidak memiliki muatan “benar” atau ”salah”</strong> karena ini merupakan reaksi manusiawi dalam menghadapi sesuatu. Perilaku yang mengikuti emosilah yang bisa dinilai “benar” atau “ salah”. Dalam  kasus sekretaris baru tadi, jika ia tidak mampu mengatasi emosi takut yang ia rasakan dan kemudian mengetik dengan terlalu hati-hati sehingga memakan waktu yang sangat lama untuk membuat satu surat saja, maka perilaku inilah yang dapat dinilai “salah”.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya <strong>emosi negatif</strong> seperti takut, marah, atau sedih saja yang bisa membuat kita menunjukkan perilaku yang “salah”. <strong>Emosi positif</strong> seperti bahagia juga bisa merugikan jika kita tidak paham bagaimana cara mengaturnya menjadi perilaku yang sesuai. <img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3b.gif" alt="2" width="87" height="118" align="left" />Salah satu contoh adalah kasus siswa-siswa yang lulus ujian akhir nasional. Mereka menunjukkan luapan kegembiraannya dengan melakukan konvoi di jalan, membuat coret-coretan di dinding, atau bernyanyi-nyanyi dengan suara keras yang mengganggu orang lain. Tentunya kegembiraan mereka tidak salah karena mungkin mereka memang telah berusaha maksimal untuk lulus, namun <strong>cara</strong> mereka menunjukkan kegembiraan itulah yang tidak wajar dan dinilai salah menurut umum.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Wah, kalau emosi positif saja bisa merugikan, berarti kita benar-benar harus pandai mengendalikan perilaku yang menyertai emosi tertentu. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan perilaku emosional kita? Langkah pertama adalah memiliki <strong><em>self-awareness</em></strong>.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Gill Sans MT Condensed,Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;">Self Awareness</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Untuk dapat mengendalikan perilaku emosional, kita perlu mengenali dulu emosi apa yang kita rasakan pada suatu waktu. <em>Self Awareness</em> (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikut emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, <em>Self Awareness</em> adalah keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.<br />
Seorang pakar psikologi yang banyak menekuni permasalahan emosi, John D. Mayer, mengatakan bahwa umumnya ada <strong>3 gaya</strong> yang tampil ketika seseorang menghadapi emosinya, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Terbebani (<em>Engulfed</em>)</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3c.gif" alt="3" width="103" height="112" align="right" hspace="12" />Tipe ini tenggelam dalam emosi-emosinya dan tidak mampu keluar dari situasi ini. Mereka tidak memahami emosinya sendiri sehingga bisa mudah larut terbawa emosi. Akibatnya, mereka tidak banyak berusaha untuk keluar dari kondisi emosi tertentu dan akhirnya tidak mampu mengontrol perilaku emosionalnya. Contohnya adalah kasus putus cinta yang jadi pembuka artikel ini, atau kasus orang yang memaki-maki pengendara lain karena lalu lintas yang macet. Mereka tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk menyadari emosi sedih atau marah yang sedang mereka rasakan. Begitu merasakan emosi tertentu, tanpa pikir panjang mereka langsung bereaksi sesuai dorongan emosi tersebut.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Menerima (<em>Accepting</em>)</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3d.gif" alt="4" width="44" height="126" align="right" hspace="12" />Orang-orang ini sebenarnya menyadari emosi apa yang mereka rasakan namun cenderung menerima begitu saja emosi yang sedang terjadi dan tidak mencoba memahami emosi tersebut lebih jauh. Pada akhirnya mereka tidak berusaha untuk beradaptasi dengan emosi yang muncul. Hal ini bisa menjadi masalah ketika emosi yang dialami adalah sedih, lalu dibiarkan berkepanjangan sehingga bisa menimbulkan perasaan tertekan (depresi). Hal lain terjadi ketika emosi yang dirasakan adalah marah atau takut. Mungkin saja dalam jangka panjang, emosi marah yang dibiarkan ini bisa berubah jadi perasaan dendam, sedangkan emosi takut bisa menjadi paranoid (rasa takut berlebihan yang tidak jelas alasannya).</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Sadar diri (<em>Self-aware</em>)</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3e.gif" alt="5" width="93" height="83" align="right" hspace="12" />Orang-orang dengan gaya ini menyadari dan memahami emosi yang terjadi pada dirinya. Mereka mengetahui batas-batas norma yang perlu dijaga dan berpikir untuk mengelola emosi yang dirasakan agar perilakunya masih berada dalam ambang batas tersebut. Pada waktu merasakan emosi positif, orang-orang yang sadar diri mampu menunjukkan kegembiraannya dengan sesuai dan bisa mempertahankan perasaan menyenangkan dari emosi itu untuk beberapa lama. Di lain pihak, ketika mengalami emosi negatif, mereka tidak terlalu terobsesi dengan hal yang memicu emosi tersebut dan bisa segera keluar dari perasaan tidak nyaman. Contohnya ketika orang yang sadar diri mengalami putus cinta. Kemungkinan besar ia akan memahami bahwa emosi sedihnya itu wajar ia rasakan, namun tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Ia akan mencari kegiatan lain yang lebih produktif untuk mengatasi perasaan sedih yang mendalam tersebut. </span></div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3f.gif" alt="6" width="116" height="125" align="left" hspace="12" />Dari uraian di atas jelaslah bahwa ketika sadar diri kita jadi lebih mudah mengontrol emosi yang dirasakan sehingga bisa lebih efektif mengendalikan perilaku emosional kita. Kita bisa lebih memahami emosi kita berikut alasan-alasan yang menjelaskan kenapa kita merasakan emosi tersebut. Dan dengan menyadari alasan munculnya suatu emosi, berarti kita telah mendorong otak kita berpikir tentang tingkat kepentingan sumber masalah.<br />
Begini contohnya. Misalnya seorang karyawan terjebak di kemacetan. Orang yang sadar diri akan menyadari bahwa ia merasakan emosi marah karena dirinya lelah sepulang dari hari yang padat di kantor. Ia ingin cepat tiba di rumah karena anak dan istri telah menunggu. Ketika ada kendaraan lain yang menyerobot jalurnya, sebenarnya si karyawan sudah siap untuk murka, melampiaskan amarahnya pada pengemudi kendaraan yang tidak sopan itu. Tapi karena ia sadar diri, ia berpikir lagi alasan kenapa dirinya ingin cepat-cepat pulang. Pada akhirnya ia bisa menyadari bahwa jauh lebih penting untuk bisa tiba di rumah dengan selamat daripada menyulut perkelahian di jalan raya. Nah, pilihan yang tepat bukan? </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Dengan keuntungan-keuntungan menjadi orang yang sadar diri, tentu kita ingin menjadi orang yang demikian. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah caranya?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Gill Sans MT Condensed,Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: x-small;">Membangun Self Awareness</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kesadaran diri dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak yang disebut <em>neokorteks</em>. Ini adalah bagian otak yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran diri, Anda perlu “membahasakan”, mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:</span></p>
<ol>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>I Messages (Pesan “Saya&#8230;..”)</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3g.gif" alt="7" width="88" height="138" align="right" hspace="12" />Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan “Saya&#8230;.”. Contohnya: “Saya merasa perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya” atau “Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat”. <em>I message</em> menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.</span></div>
</li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Berbagai Cara Berbagai Warna</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:</span></li>
</ol>
<ul>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3h.gif" alt="9" width="91" height="141" align="right" hspace="12" />Warna</strong>, contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis, warna <em>font</em> di komputer, dan sebagainya.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Skala</strong>, contoh: “Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah”. Ini memberi gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Analogi</strong>, contoh : “Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!”. Analogi ini juga bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia, analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa kulitnya). </span></div>
</li>
</ul>
<ol>
<li value="3">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Menuliskan kebutuhan yang tidak terpenuhi</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3i.gif" alt="9" width="91" height="141" align="right" hspace="12" />Hal ini ditujukan untuk menjelaskan kepada diri sendiri alasan dari emosi yang sedang Anda rasakan. Contoh: ketika Anda marah pada saat staf Anda tidak ikut memikul beban kerja yang sama, Anda bisa menuliskan “Saya ingin dia ikut lembur ketika saya lembur” beserta kebutuhan/keinginan lain yang Anda sadari. Semakin banyak kebutuhan/keinginan yang Anda tuliskan, maka Anda akan semakin menyadari keadaan emosi diri.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Menuliskan yang ingin dilakukan</strong></span><br />
<span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Sebenarnya ini sudah memasuki tahap lanjutan dari <em>Self Awareness</em>. Setelah Anda menyadari emosi-emosi yang sedang dialami, langkah selanjutnya adalah menentukan hal apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya terkait dengan emosi tersebut. Pada contoh Anda marah pada staf yang malas-malasan tadi,  Anda bisa menuliskan “Saya ingin memotong gajinya kalau pulang lebih cepat lagi” atau “Saya akan langsung menegurnya jika ia menolak penugasan”. Dengan menuliskan hal yang ingin dilakukan, Anda memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali berpikir: apakah hal-hal tersebut sudah sesuai dan tidak menyalahi norma yang berlaku.</span></div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0807_3j.gif" alt="10" width="109" height="90" align="right" hspace="12" />Dengan membiasakan hal-hal di atas, Anda akan bisa merasa lebih nyaman menghayati emosi-emosi Anda tanpa harus larut dan lepas kendali. Nah, setelah Anda belajar banyak tentang emosi dan <em>Self Awareness</em>, tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk merasa tidak berdaya ketika dilanda suatu emosi yang kuat. Baik itu emosi negatif, maupun emosi positif. Sekarang Anda sudah belajar untuk membuat diri Anda sendiri menyadari emosi-emosi tersebut. Tinggal separuh langkah selanjutnya dimana Anda merencanakan perilaku yang sesuai untuk mengekspresikan emosi tersebut kepada orang lain.</span></p>
<p align="justify">Sumber : <a href="http://www.lptui.com/artikel.php?fl3nc=1&amp;param=c3VpZD0wMDAyMDAwMDAwY2MmZmlkQ29udGFpbmVyPTY2&amp;cmd=articleDetail">LPTUI</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/self-awareness-langkah-awal-menuju-adaptasi-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jilbab</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/07/17/jilbab/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/07/17/jilbab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 13:43:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang shaleh.” (Rasulullah SAW) “Segala sesuatu ada penegurnya, dan penegur hati adalah rasa malu!” (Rasulullah SAW) “Perempuan membuka auratnya dalam kehidupan sosial adalah salah satu sumber kerusakan moral seksual manusia modern, termasuk dalam masyarakat Muslim.” (Dina Karidha Gusti) Sebelum kita bahas tentang jilba lebih dalam lagi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang shaleh.” (Rasulullah SAW)</p>
<p>“Segala sesuatu ada penegurnya, dan penegur hati adalah rasa malu!” (Rasulullah SAW)</p>
<p>“Perempuan membuka auratnya dalam kehidupan sosial adalah salah satu sumber kerusakan moral seksual manusia modern, termasuk dalam masyarakat Muslim.” (Dina Karidha Gusti)</p>
<p>Sebelum kita bahas tentang jilba lebih dalam lagi, saya ingin mengajukan kepada Anda, mana wanita berjilbab yang akan anda pilih seperti gmabar dibawah ini ?</p>
<p><span id="more-87"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Pilihan 1</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://indra.chaidir.info/wp-content/uploads/2010/05/jilbab11.jpg"><img title="jilbab1" src="http://indra.chaidir.info/wp-content/uploads/2010/05/jilbab11-225x300.jpg" alt="" width="135" height="180" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Pilihan 2</p>
<p><a href="http://indra.chaidir.info/wp-content/uploads/2010/05/jilbab2.jpg"><img title="jilbab2" src="http://indra.chaidir.info/wp-content/uploads/2010/05/jilbab2.jpg" alt="" width="120" height="180" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3. Pilihan 3</p>
<p><a href="http://indra.chaidir.info/wp-content/uploads/2010/05/jilbab3.jpg"><img title="jilbab3" src="http://indra.chaidir.info/wp-content/uploads/2010/05/jilbab3.jpg" alt="" width="113" height="143" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari gambar yang anda pilih sedikit dibahasa dalam bagian ilustrasi diakhir bagian artikel dibawah ini.</p>
<p>Mengapa perempuan Muslim harus menutup auratnya? Wajib sebagaimana diperintahkan Tuhan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi? Kalau tidak melaksanakan berdosa? Benar, tapi mari kita kesampingkanlah dululah alasan perintah ini. Kita mafhum, melaksanakan sesuatu karena dasarnya perintah menunjukkan kesadaran diri yang rendah. Mari kita mendasarkan pada kesadaran diri saja, mari memahami ini dengan akal sehat saja. Bila nanti kata akal sehat saja harus, maka benarlah perintah agama, pantas Allah dan Rasul-Nya memerintahkannya. Ini akan lebih kuat menancap dalam hati dibandingkan yang dasarnya karena perintah.</p>
<p>Kita akan lebih kuat melaksanakan sesuatu bila sudah sadar bahwa itu memang keharusan. Seorang anak akan rajin belajar dengan sendirinya bila menyadari bahwa belajar itu penting karena akan menentukan masa depannya sendiri, tanpa harus disuruh-suruh. Perempun Muslim yang sudah menutup aurat dengan benar dan konsisten itu karena ada kesadaran dalam dirinya. Sementara yang belum juga karena belum adanya kesadaran dalam dirinya. Bila diri belum sadar, walaupun ceramah didengarkan setiap hari, walaupun ayat Al-Qur’an dibacakan ratusan kali, tetap saja seseorang tidak akan tergerak melaksanakan sebuah keharusan. Mungkin sebenarnya semua perempuan Muslim sudah tahu bahwa menutup aurat sesungguhnya adalah persoalan memuliakan harga diri perempuan. Dalam Islam, perempuan itu makhluk yang mulia dan dimuliakan. Dengan menutup aurat, agama bermaksud menjaga harga diri dan kehormatannya.</p>
<p>Ilustrasi yang paling tepat mengibaratkan perempuan Muslim adalah perhiasan atau barang mahal. Barang mahal memiliki ciri-ciri: (1) dijual di toko berkelas, (2) disimpan di etalase yang hanya bisa dipandang dibalik kaca, (3) disegel, tidak bisa dibuka dan disentuh isinya, (4) tidak bisa dicoba dulu, (5) harganya mahal dengan jaminan memuaskan, dan (6) bergaransi. Kebalikan dari barang mahal adalah barang murah. Ciri-cirinya: (1) adanya di toko murah, di emperan atau di pasar, (2) tidak disegel, (3) diobral, (4) boleh dicoba, bebas disentuh-sentuh, dipegang-pegang, dicoba berulang kali oleh banyak orang, (5) setelah dicoba boleh tidak jadi dibeli, (6) tidak ada garansi.<br />
Islam memperlakukan perempuan persis seperti barang mahal tersebut.</p>
<p>Diibaratkan dua jenis tadi, “toko berkelas” adalah keluarganya yang bermartabat yang taat pada agama; “disegel, tidak bisa dibuka dan disentuh” adalah prinsip dibalik busana Muslimahnya; “tidak bisa dicoba dulu” adalah menjaga kehormatan, tidak bisa memesrai dan menggaulinya tanpa menikahinya dulu; “haganya mahal” adalah pembelinya harus laki-laki yang juga mahal (terjaga akhlak dan kepribadiannya). Laki-laki murahan tidak akan sanggup karena tidak akan berani, malu mendapatkannya dan merasa dirinya tidak seimbang; “bergaransi” adalah orisinial, dijamin masih gadis dan belum disentuh laki-laki lain.</p>
<p>Adalah jelas, menutup aurat adalah menjaga diri, mensegel diri, menghormati diri, memuliakan diri. Perempuan yang menutup auratnya (dengan benar dan akhlaknya terjaga), adalah barang mahal yang tersimpan dalam etalase, terjaga dalam sebuah kotak yang tidak bisa dibuka, tersegel, tidak bisa disentuh dan harganya mahal. Sebaliknya, perempuan yang membuka auratnya (betis, paha, lengan, rambut, leher dan dada, apalagi lebih dari itu) adalah “barang obralan” yang murah, tidak perlu repot-repot ingin membukanya karena ia sudah terbuka (tidak ditutup), silahkan bebas menatap dan menyentuh-nyentuhnya (dalam kebebasan pergaulan dan persahabatan) dan “merasakannya” (dalam pacaran). Kalau sudah tidak suka lagi atau tidak cocok, boleh tidak jadi memilikinya. Jadilah, ia barang bekas. Barang bekas tentu tidak berkualitas, murah, karena sudah dipakai orang.</p>
<p>Mengapa perempuan yang seharusnya mahal menjadi murah? Kata Nabi, karena hilangnya rasa malu: “Al-hayu-u minal iman” (malu itu sebagian dari iman). “Iman itu ada tujuh puluh cabang dan malu adalah salah satunya” (HR. Muslim). “Segala sesuatu ada penegurnya (penjaganya), dan penegur hati adalah rasa malu!” Sangat menyedihkan, bila dulu perempuan malu kelihatan auratnya, sekarang malah bangga mempertontonkannya. Maka berbaju ketat menjadi mode, bercelana pendek berarti gaul, dan menonjolkan payudara adalah kebanggaan. Rasa malu hilang dari perasaan perempuan. Bila perempuan sudah kehilangan rasa malu, itu berati kehancuran negara, masyarakat dan keluarga. Maka benarlah, “perempuan membuka auratnya dalam kehidupan sosial adalah salah satu sumber kerusakan moral seksual masyarakat, termasuk dalam masyarakat Muslim.” Dan iblis pun pernah berkata: “Perempuan adalah alat senjataku yang paling ampuh untuk menyesatkan anak adam. Ia seperti anak panah. Sekali kulepaskan dari busurnya, jarang meleset!”</p>
<p>Sehubungan dengan ilustrasi barang mahal tadi, ada beberapa pertanyaan:</p>
<p>(1) Bagaimana dengan perempuan yang berkerudung menutup auratnya tapi tidak menjaga akhlaknya, bebas pacaran, bermesraan dan banyak disentuh-sentuh apalagi sudah tidak perawan? Ia adalah “barang mahal” yang palsu, aslinya murah bungkusnya pun murah (hanya simbol) sehingga gampang dibuka dan dicoba. Ia barang tipuan yang tanpa sadar sedang menipu dirinya sendiri.</p>
<p>(2) Bagaimana dengan perempuan yang merasa tidak perlu menutup aurat yang penting bisa menjaga diri sehingga tetap menganggap dirinya perempuan terhormat? Kalau benar-benar bisa menjaga diri, ia adalah barang mahal yang diobral. Barang bagus yang diobral tetap saja lebih murah dan lebih rendah nilainya dari barang mahal yang tidak diobral.</p>
<p>(3) Bagaimana dengan perempuan yang mengatakan: “Ah, yang berkerudung juga banyak yang kelakuannya parah, mendingan begini, gak berkudung tapi punya prinsip”? Itu artinya menutupi keengganannya dengan kesalahan. Lain kata, lari dari satu kesalahan dan bersembunyi dalam kesalahan yang lain.</p>
<p>(4) Bagaimana dengan perempuan yang berusaha mengutak-ngatik pengertian “aurat” dengan logikanya kemudian berkesimpulan menutup aurat itu tidak perlu? Ia adalah orang yang memaksa-maksakan dan memperkosa dirinya agar harganya murah.</p>
<p>(5) Bagaimana dengan perempuan dan laki-laki termasuk ulama yang ahli agama, ahli tafsir dan mengatakan menurup aurat itu tidak perlu (karena pengertian sebenarnya tentang aurat bukan yang secara konvensional difahami)? Ia sedang melegitimasi penolakannya pada perintah Tuhan dan tuntunan Nabi atau melegitimasi penolakannya dengan ilmu agamanya sendiri (ini paling ironis dan paling berat pertanggungjawabannya kelak). Ingat, ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak menumbuhkan kesadaran malah menjadi penolakan pada kebenaran dan perintah Tuhan sendiri.</p>
<p>Perintah agama begitu masuk akal, rasional dan sangat jelas untuk memuliakan kaum perempuan. Menghadapi perintah Tuhan hanya satu: “Sami’na wa atha’na” (Kami dengar dan kami taat). Ilustrasi-ilustrasi di atas hanya untuk menguatkan bahwa perintah agama sebenarnya berlandaskan akal sehat. Tapi, tentu saja, apakah ingin menjadi barang mahal atau barang murah jelas sebuah kebebasan. Silahkan memilihnya sendiri. Bebas-bebas saja kok. Mau sadar atau tidak kitalah yang menentukan!! Mau selamat atau celaka kelak di akhirat kitalah yang menanggungnya. Mengapa manusia banyak yang merasa nyaman dalam kesalahan dan ketaksadaran? Karena Tuhan tidak langsung menghukum setiap pelanggaran. Dia memberikan waktu yang panjang kepada kita untuk berfikir dan berubah. Itulah kasih sayang-Nya yang tiada tara pada hamba-Nya sebelum celaka di akhirat kelak. Masihkan kita akan menyia-nyiakan kesempatan? Wallahu ‘alam!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/07/17/jilbab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taukah anda ?</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/05/20/taukah-anda/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/05/20/taukah-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 16:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu Pengetahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Taukah anda bahwa kecoak dapat bertahan hidup selama 9 Hari meski tidak memiliki kepala, sebelum benar-benar mati karena kelaparan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Taukah anda bahwa kecoak dapat bertahan hidup selama 9 Hari meski tidak memiliki kepala, sebelum benar-benar mati karena kelaparan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/05/20/taukah-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

