<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BEOCO (Blogger ID)</title>
	<atom:link href="http://blog.beoco.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.beoco.or.id</link>
	<description>Sharing Code and Inspiring Others</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 01:23:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Perempuan Cantik Sulit Dapat Pekerjaan?</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2012/04/21/perempuan-cantik-sulit-dapat-pekerjaan/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2012/04/21/perempuan-cantik-sulit-dapat-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 23:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Kecantikan mungkin hanya soal penampilan luar, tapi apakah wajah rupawan Anda memusnahkan kesempatan Anda mendapatkan pekerjaan? Menurut sebuah penelitian di dua universitas di Israel, wajah cantik seorang perempuan justru bisa merugikan dirinya sendiri saat tengah mencari pekerjaan. Para peneliti berkesimpulan bahwa perempuan cantik sering mendapatkan perlakuan berbeda alias diskriminasi. Tetapi bukan karena perusahaan berpendapat perempuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/sN8g5dep_tZLCJu.anHW8w--/YXBwaWQ9eW5ld3M7cT04NTt3PTMxMA--/http://l.yimg.com/os/401/2012/04/20/office-woman-jpg_054157.jpg" alt="" width="310" />Kecantikan mungkin hanya soal penampilan luar, tapi apakah wajah rupawan Anda memusnahkan kesempatan Anda mendapatkan pekerjaan?</p>
<p>Menurut sebuah penelitian di dua universitas di Israel, wajah cantik seorang perempuan justru bisa merugikan dirinya sendiri saat tengah mencari pekerjaan.</p>
<p><span id="more-167"></span></p>
<p>Para peneliti berkesimpulan bahwa perempuan cantik sering mendapatkan perlakuan berbeda alias diskriminasi. Tetapi bukan karena perusahaan berpendapat perempuan berwajah cantik berarti bodoh.</p>
<p>Alasannya jauh berbeda.</p>
<p>Penelitian itu menyimpulkan, wanita cantik mengalami kegagalan saat wawancara kerja karena para wanita di departemen sumber daya manusia  (HRD) merasa terancam dengan kecantikan mereka.</p>
<p>Di Eropa dan Israel, seperti juga di banyak negara lain, adalah lumrah untuk menaruh foto wajah di resume. Karena itu, metodologi penelitian ini melibatkan pria dan wanita yang mengirim resume ke 2.656 perusahaan. Beberapa mencantumkan foto dan beberapa tidak melakukan hal tersebut.</p>
<p>Sebanyak 93 persen wakil departemen SDM yang menentukan apakah seseorang bisa ikut wawancara berjenis kelamin perempuan.</p>
<p>Beberapa cuplikan penelitian tersebut:</p>
<p>Pria tampan dua kali lebih sering dipanggil wawancara ketimbang pria biasa (atau yang tidak menyertakan foto). Tetapi hal itu tidak berlaku bagi wanita cantik. Perempuan yang tak menyertakan foto justru lebih sering dipanggil wawancara ketimbang yang cantik atau berwajah biasa.</p>
<p>Tetapi para peneliti tidak menyebutkan alasan perbedaan ini. Mungkin saja perempuan yang tidak menyertakan foto dianggap lebih profesional.</p>
<p>Meski perempuan cantik lebih sulit menerima panggilan wawancara, penelitian menunjukkan, ketika sudah diterima perusahaan, mereka memiliki gaji yang lebih tinggi. Bahkan jenjang kariernya naik lebih cepat dibandingkan yang berwajah rata-rata.</p>
<p>Jika memang penelitian ini benar, para perempuan cantik yang sedang mencari pekerjaan tidak usah khawatir. Kecuali Anda seorang aktor atau entertainer, menaruh foto wajah di lamaran atau CV bukanlah sesuatu yang diwajibkan.</p>
<p>Dan jika Anda seorang perempuan cantik dan mendapatkan kesempatan wawancara untuk pekerjaan impian Anda, mengenakan kacamata ternyata bisa membantu menampilkan kesan yang lebih baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : <a href="http://id.she.yahoo.com/perempuan-cantik-sulit-dapat-pekerjaan-.html">http://id.she.yahoo.com/perempuan-cantik-sulit-dapat-pekerjaan-.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2012/04/21/perempuan-cantik-sulit-dapat-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Model Ciuman ABG Jaman Sekarang</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2012/04/15/7-model-ciuman-abg-jaman-sekarang-2/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2012/04/15/7-model-ciuman-abg-jaman-sekarang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 06:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Model Ciuman ABG Jaman Sekarang &#8211; Pada zaman modern seperti sekarang, terdapat beberapa variasi baru dalam berciuman yang dapat dipraktikkan para pecinta untuk semakin menggelorakan hasrat seksualnya. Apa saja? Simak jenis-jenis ciuman terpopuler, seperti dikutip dalam buku “Kamasutra &#38; Kecerdasan Seks Modern”, karya Ki Guno Asmoro. Ciuman menekan Ciuman yang dilakukan dengan menekankan bibirnya kuat-kuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Model Ciuman ABG Jaman Sekarang</strong> &#8211; Pada zaman modern seperti sekarang, terdapat beberapa variasi baru dalam berciuman yang dapat dipraktikkan para pecinta untuk semakin menggelorakan hasrat seksualnya. Apa saja?</p>
<p>Simak jenis-jenis ciuman terpopuler, seperti dikutip dalam buku “Kamasutra &amp; Kecerdasan Seks Modern”, karya Ki Guno Asmoro.<span id="more-146"></span></p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/-K5UQG6plGvg/T4mGmfyC9dI/AAAAAAAAGMU/E-G_4KYwVSk/s1600/3988.88518706.ac3.jpg"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-K5UQG6plGvg/T4mGmfyC9dI/AAAAAAAAGMU/E-G_4KYwVSk/s320/3988.88518706.ac3.jpg" alt="" width="320" height="180" border="0" /></a></p>
<p><strong>Ciuman menekan</strong><br />
Ciuman yang dilakukan dengan menekankan bibirnya kuat-kuat pada bibir pasangan.</p>
<p><strong>Ciuman botol bayi</strong><br />
Ciuman yang dilakukan seseorang dengan menyedot bibir pasangannya laksana bayi sedang menyedot botol susunya.</p>
<p><strong>Ciuman sedot penuh</strong><br />
Ciuman yang dilakukan dengan cara menyedot penuh-penuh pada mulut masing-masing pasangan. Caya ciuman ini memang sedikit eksperimental, namun tidak ada salahnya untuk dicoba oleh sang pencinta guna mendapatkan sensasi “rasa” ciuman yang lain.</p>
<p><strong>Ciuman gelembung</strong><br />
Kebalikan dari ciuman sedot penuh yang juga bersifat eksperimental. Ciuman ini dilakukan dengan saling meniup mulut pasangan hingga kedua pipi masing-masing menggelembung membulat. Masih dalam posisi berciuman, masing-masing pasangan kemudian mengempiskan gelembung di mulutnya tersebut.</p>
<p><strong>Ciuman cukur tertutup</strong><br />
Ciuman yang dilakukan seseorang dengan membawa “lidah” pasangannya ke dalam mulutnya sendiri, kemudian “menjepit” lidah itu dengan gigi-giginya. Selanjutnya, dengan gigi-giginya itu pula ia “mencukur” lidah pasangannya tersebut dengan bergerak maju mundur sesuai juluran lidah pasangannya.</p>
<p><strong>Ciuman meluncur</strong><br />
Ciuman yang tidak pada satu bagian tubuh pasangannya semata, melainkan terus “meluncur” ke bagian-bagian tubuhnya yang lain. Bisa saja semula mencium bibir pasangannya, namun kemudian diteruskan ke pipi, leher, bahu, dada, payudara, dan terus meluncur ke tempat-tempat lainnya untuk semakin membakar gairah diri dan pasangannya.</p>
<p><strong>Ciuman gairah</strong><br />
Ciuman yang dilakukan seorang pecinta kepada pasangannya yang telah tertidur atau tengah beristirahat dengan menciumi wajah dan leher pasangannya sebagai pelepas gairah seks yang membara.</p>
<p>Sumber : <a title="http://spotmenarik.blogspot.com" href="http://spotmenarik.blogspot.com">http://spotmenarik.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2012/04/15/7-model-ciuman-abg-jaman-sekarang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan-jalan di kebun teh Wonosari</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2012/03/04/jalan-jalan-di-kebun-teh-wonosari/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2012/03/04/jalan-jalan-di-kebun-teh-wonosari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2012 06:24:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wara wiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Setelah setiap hari disibukkan dengan rutinitas aktifitas kerja perlu rasanya jalan-jalan ke suatu tempat yang dapat melupakan sejenak aktifitas kerja dan membuat pikiran menjadi fresh, akhirnya aku buka internet buka-buka lokasi wisata dekat dengan surabaya ada pilihan beberapa tempat yang mungkin sudah biasa dikunjungi seperti Pacet, Trawas, Tretes, Kebun Teh, Bromo, malang tetapi apa salahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah setiap hari disibukkan dengan rutinitas aktifitas kerja perlu rasanya jalan-jalan ke suatu tempat yang dapat melupakan sejenak aktifitas kerja dan membuat pikiran menjadi fresh, akhirnya aku buka internet buka-buka lokasi wisata dekat dengan surabaya ada pilihan beberapa tempat yang mungkin sudah biasa dikunjungi seperti Pacet, Trawas, Tretes, Kebun Teh, Bromo, malang tetapi apa salahnya jika di coba asal pikiran cocok dan dapat dinikmati dengan suasana yang ceria akan mendapatkan suasana rekreasi yang diharapkan bisa melepaskan stress sejenak.</p>
<p>tujuan pilihan akhirnya ke kebun teh Wonosari di Lawang (<a href="http://agro-ptpn12.com/">http://agro-ptpn12.com</a>) , agar lebih enak ajak keluarga terutama 2 ponaan (Rasya dan Rafie) yang paling suka klo diajak jalan-jalan. sebelum berangkat pastikan dulu dengan telp untuk reservasi penginapan untuk 2 hari kedepan, setelah di dapat kepastian tempat penginapan mulai berangkat</p>
<p>dikarenakan lokasi jalan naik akhirnya mengunakan pacuan si toyoya rush menjadi pilihan karena sangat nyaman jika dipakai naik ke gunung, sebelum berangkat beli ikan dulu di pasar ikan di Lingkar timur sidoarjo.</p>
<p>berangkat dari dari rumah sampai ke lokasi tempat wisata sekitar 4 jam biasanya 3 jam nyampe berhubung kejebak macet di porong akhirnya molor satu jam. tp ga menjadi masalah yang penting sampe tujuan, setelah menempuh sekitar 3 jam an akhirnya sampai juga di lawang, jalan mulai naik dan disambut dengan orang jualan durian di kanan dan kiri jalan, mampir dulu pastinya buat beli durian.. 10 buah durian akhirnya masuk ke bagasai belakang lumayan bisa di makan di atas, begitu memasuki pintu gerbang kebunteh PT. Perkebunan Nusantara 12 disambut dengan pemandangan hamparan teh seperti hamparan permadani, belok-kanan belok kiri naik terus akhirnya sampe juga di lobi hotel chekin dulu and ambil kunci vilanya,, setelah kunci didapat meluncur ke lokasi penginapan, buka kunci pintu dan cek kondisi rumah lumayan vilanya bangunannya baru terdiri dari 2 unit kamar ada dapur, 1 kamar mandi panas, dan yang terpenting pemendangannya bagian depan dan kanan kirinya adalah hamparan kebun teh&#8230;</p>
<p>bongkar-bongkar bawaan dan makan-makan lalu jalan-jalan.. hapy week end..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2012/03/04/jalan-jalan-di-kebun-teh-wonosari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Tanda Anda Harus Pindah Kerja</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2012/01/22/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2012/01/22/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 23:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Rata-rata jam kerja pegawai kantoran adalah 8 hingga 9 jam. Artinya, setiap hari, Anda menghabiskan sepertiga hidup Anda di kantor. Sia-sia sekali rasanya jika waktu sebanyak ini dihabiskan dengan mengeluh dan berbagai hal lain yang membuat Anda tak bahagia. Mungkin sudah saatnya Anda mengundurkan diri dan pindah kerja ke perusahaan lain, atau jadi pengusaha? Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rata-rata jam kerja pegawai kantoran adalah 8 hingga 9 jam. Artinya, setiap hari, Anda menghabiskan sepertiga hidup Anda di kantor. Sia-sia sekali rasanya jika waktu sebanyak ini dihabiskan dengan mengeluh dan berbagai hal lain yang membuat Anda tak bahagia. Mungkin sudah saatnya Anda mengundurkan diri dan pindah kerja ke perusahaan lain, atau jadi pengusaha?<br />
<span id="more-133"></span><br />
Jika Anda mengalami 10 hal berikut ini, tandanya Anda memang harus segera mengucap selamat tinggal pada rekan kerja.</p>
<p><strong>1. Anda begitu membenci hari Senin</strong><br />
Merasa sedih saat weekend berakhir dan Senin kembali datang itu hal yang wajar. Tapi jika Anda membayangkan masuk kantor, bekerja, bertemu bos, bertemu rekan kerja, dan semua yang akan terjadi hari Senin, lalu Anda merasa muak, takut, bahkan stres, artinya Anda memang tak ingin berada di sana. Mungkin Anda hanya bertahan hanya demi punya pekerjaan? Tapi untuk apa menyiksa diri dan menghabiskan sepertiga hidup Anda di tempat yang Anda benci, sementara banyak orang lainnya yang menikmati pekerjaan mereka?</p>
<p><strong>2. Anda bekerja tak dengan hati</strong><br />
Pekerjaan yang ideal adalah saat kita mengerjakan apa yang kita cintai. Memang tak semua orang seberuntung itu, tapi jika Anda mencintai pekerjaan Anda, melakukan aktivitas sehari-hari di kantor pun tak akan terasa berat. Bahkan jika pekerjaan Anda berat, Anda masih bisa bersenang-senang di kantor. Namun jika Anda mulai merasa terpaksa, atau bahkan benci, mengerjakan tugas di kantor, sampai Anda mencari-cari alasan untuk tak masuk kantor, untuk apa dilanjutkan?</p>
<p><strong>3. Hubungan dengan bos tidak baik</strong><br />
Bos galak itu biasa. Yang harus diwaspadai adalah jika hubungan Anda dengan bos lebih buruk dibanding hubungan bos dengan rekan-rekan kerja Anda. Merupakan pertanda buruk pula jika Anda sampai harus menyelesaikan masalah Anda dengan bos lewat atasan bos Anda, atau lewat departemen SDM (HRD).</p>
<p><strong>4. Kemampuan Anda tak dianggap</strong><br />
Anda lulusan S2 manajemen, namun di kantor ini Anda hanya diberi tugas mengerjakan hal-hal remeh. Berkali-kali Anda meminta naik jabatan atau diberi tanggung jawab lebih, namun permohonan itu tak pernah digubris. Jangan sia-siakan bakat dan potensi Anda untuk perusahaan yang tak menghargainya.</p>
<p><strong>5. Masa depan perusahaan Anda tak jelas</strong><br />
Perusahaan Anda terlilit utang, beberapa departemen ditutup, sejumlah besar karyawan diberhentikan, gaji sudah tak dibayarkan selama dua bulan. Jika perusahaan diibaratkan perahu, segeralah Anda menyelamatkan diri sebelum ikut tenggelam.</p>
<p><strong>6. Prinsip Anda dan perusahaan tak sejalan</strong><br />
Anda adalah orang yang sangat mencintai lingkungan, namun Anda bekerja di perusahaan yang dikenal suka mencemari lingkungan. Awalnya mungkin Anda masih bisa berkompromi, tapi jika hal ini tetap mengganggu Anda dan bahkan membuat Anda stres, carilah perusahaan lain yang sejalan dengan prinsip Anda.</p>
<p><strong>7. Gaji Anda tak memadai</strong><br />
Biasanya fresh graduate alias yang baru lulus kuliah dan memiliki nol pengalaman masih mau menerima pekerjaan dengan gaji di bawah standar. Tapi itu pun seharusnya disertai catatan bahwa dalam setahun atau dua tahun akan ada kenaikan gaji. Jika usia Anda sudah lebih dari 27 tahun dan Anda masih digaji di bawah standar, padahal pekerjaan yang sama di perusahaan lain gajinya berkali lipat, saatnya Anda cari kesempatan lain. Tentu saja ini berlaku jika permintaan Anda untuk naik gaji tak pernah digubris.</p>
<p><strong>8. Anda tak suka rekan-rekan kerja Anda</strong><br />
Pekerjaan yang berat akan terasa ringan dan menyenangkan jika dikerjakan bersama orang-orang yang Anda cintai. Bahkan rekan-rekan kerja bisa jadi alasan kita untuk bersemangat berangkat kerja di hari Senin. Tapi jika Anda tak punya teman dekat di kantor, atau sama sekali tak bergaul dengan mereka karena merasa tak cocok, makan siang selalu sendiri, rekan-rekan kerja memperlakukan Anda dengan tidak baik, dan Anda sering terlibat pertengkaran dengan rekan kerja, saatnya ucapkan selamat tinggal pada mereka.</p>
<p><strong>9. Anda makan gaji buta</strong><br />
Yang Anda lakukan di kantor sebagian besar adalah browsing di internet yang tak berhubungan dengan pekerjaan, lalu nongkrong, lalu ngobrol-ngobrol dengan rekan kerja, dan tak mengerjakan apapun. Enak memang, karena Anda tetap digaji meskipun Anda tak berkontribusi. Tapi ini artinya Anda &#8220;tak dianggap&#8221; oleh perusahaan. Anda produktif atau tidak, perusahaan tak peduli. Bahkan mungkin Anda tak masuk kantor pun tak ada pengaruhnya bagi keseluruhan alur kerja perusahaan. Waspadalah, bisa-bisa Anda didepak dari perusahaan karena larut dalam perilaku &#8220;makan gaji buta&#8221; ini.</p>
<p><strong>10. Anda masih mencari-cari lowongan pekerjaan di tempat lain</strong><br />
Tak ada salahnya mencari tahu peluang dan kesempatan apa yang ada di luar sana. Namun jika sebagian besar waktu Anda dihabiskan dengan mencari lowongan kerja di internet, atau setiap bertemu teman Anda selalu berkata, &#8220;Ada lowongan nggak, di kantormu?&#8221;, artinya Anda memang benar-benar ingin keluar dari perusahaan Anda. Ikutilah kata hati itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : <a href="http://id.she.yahoo.com/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja.html">http://id.she.yahoo.com/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2012/01/22/10-tanda-anda-harus-pindah-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maju Terus, Pantang Mundur !</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/30/maju-terus-pantang-mundur/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/30/maju-terus-pantang-mundur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 00:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Sebetulnya, apa sih motivasi itu? Motivasi merupakan sesuatu yang memberi energi dan mengarahkan perilaku untuk secara gigih mencapai tujuan. Sederhananya, ketika Anda merasa bersemangat dalam melobi calon klien demi komisi yang lebih besar, maka dapat dikatakan bahwa Anda memiliki motivasi besar untuk memenangkan proyek tersebut. Sebaliknya, jika Anda malas-masalan melayani klien yang merepotkan, maka bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table width="613" border="0" cellpadding="6">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="20%">
<p align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/motivasi.jpg" alt="" width="126" height="360" align="left" border="1" /></span></p>
</td>
<td valign="top" width="80%">
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Sebetulnya, apa sih motivasi itu?</strong> Motivasi merupakan sesuatu yang memberi energi dan mengarahkan perilaku untuk secara gigih mencapai tujuan. Sederhananya, ketika Anda merasa bersemangat dalam melobi calon klien demi komisi yang lebih besar, maka dapat dikatakan bahwa Anda memiliki motivasi besar untuk memenangkan proyek tersebut. Sebaliknya, jika Anda malas-masalan melayani klien yang merepotkan, maka bisa dibilang bahwa Anda bermotivasi rendah untuk memuaskan klien tersebut.</span></p>
<p align="justify"><span id="more-118"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Motivasi tidak hanya dimiliki oleh individu, tetapi juga bisa dimiliki oleh suatu kelompok. Tapi perlu diingat bahwa kelompok merupakan kesatuan dari beberapa individu yang memiliki hubungan tertentu. Oleh karena itu motivasi yang dimiliki oleh masing-masing individu dalam suatu kelompok pun pada akhirnya akan membentuk motivasi kelompok. Coba tilik tim kerja Anda pada awal-awal penugasan, biasanya atmosfer kerja tim terasa bergairah bukan? Itu dikarenakan masing-masing anggota kelompok masing bersemangat dan termotivasi penuh untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Nah, sekarang, coba lihath tim kerja Anda saat ini, apakah ada perubahan? Kemungkinan besar motivasi tim kerja Anda juga mulai menurun sejalan dengan menurunnya motivasi masing-masing anggotanya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tenang, jangan panik. Berdasarkan pengalaman lebih dari 30 tahun memberikan pelatihan-pelatihan di bidang psikologi industri dan organisasi, dan berkutat dengan materi-materi motivasi, kali ini LPTUI akan memberi tips bagaimana memotivasi tim kerja Anda. Tidak salah jika Anda mencoba mengikuti saran-saran di bawah ini untuk meningkatkan motivasi tim kerja Anda.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Segarkan sasaran </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Sekaranglah saat yang cepat untuk menyegarkan ingatan, apa sih sebenarnya tujuan yang ingin dicapai tim kerja Anda? Jika tujuan awal sudah terasa agak samar-samar, tidak ada salahnya merumuskan kembali tujuan yang ingin dicapai tim kerja. Dalam merumuskan tujuan, ada panduannya : buatlah tujuan yang <strong><span style="color: #003333;">SMART</span></strong>: </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>S</strong><span>pesific</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tujuan yang dirumuskan harus jelas, tidak boleh terlalu umum. Rumusan seperti: “Ingin mencapai target penjualan” bukanlah rumusan tujuan yang spesifik. Agar lebih jelas, tambahkan jumlah target penjualan yang ingin tercapai, misalnya menjadi: “Mencapai target penjualan Rp. 3.000.000.000,-.”</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">M</span></strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span>easurable</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tujuan yang dirumuskan harus bisa diukur derajat keberhasilan ketercapaiannyanya. Tujuan yang hanya berupa ungkapan “ingin sukses” tentunya akan sulit dinilai keberhasilannya. Apa yang dapat dijadikan tolak ukur kesuksesan? Nilai uang tertentu? Punya relasi sejumlah tertentu? Kecepatan? Presisi? Pada contoh sebelumnya, sudah dapat ditentukan bahwa tujuan tim dikatakan berhasil ketika tim sudah berhasil menjual produk senilai Rp. 3.000.000.000,-. Ini berarti sudah ada ukuran yang jelas. </span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>A</strong><span>ttainable</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tujuan yang dirumuskan harus cukup masuk akal untuk bisa dicapai. Jika tim Anda memiliki tujuan untuk mencapai target penjualan sebesar Rp. 10.000.000.000,- padahal data-data penjualan tahun lalu hanya menunjukkan maksimal penjualan sebesar Rp. 100.000.000, maka barangkali Anda perlu menyesuaikan tujuan tim menjadi lebih realistis.</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">R</span></strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span>elevant</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Unsur ini menilik kesesuaian antara satu tujuan dengan tujuan lain. Bila tim kerja Anda merupakan tim kerja tenaga penjualan, maka pertimbangkan kembali jika ada tujuan yang kurang jelas keselarasannya, misalnya antara tujuan meningkatkan jumlah pelanggan dengan tujuan meningkatkan marjin keuntungan setiap produk. Mana yang diutamakan? Menambah jumlah pelanggan bisa dilakukan dengan menawarkan diskon yang menarik, tapi itu berarti marjin keuntungan per produk mungkin berkurang. Apakah maksudnya tim harus bermain dalam volume? Hal-hal seperti ini perlu diperjelas. Dan jangan lupa juga, tujuan tim kerja Anda pastinya harus selaras dengan tujuan unit kerja yang menaungi tim Anda. </span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#cccc99">
<div align="right"><strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">T</span></strong><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><span>ime</span></span></div>
</td>
<td valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Suatu tujuan akan lebih baik jika memiliki kerangka waktu yang jelas. Hal ini akan memudahkan tim dalam mengukur derajat keberhasilan suatu tujuan. Misalnya, rumusan tujuan berupa “Mencapai target penjualan Rp. 3.000.000.000,-” tadi akan menjadi semakin mudah terukur keberhasilannya jika ditambah menjadi “Mencapai target penjualan Rp. 3.000.000.000,- pada akhir bulan Agustus 2007.”</span></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Dengan tujuan yang SMART, berarti tim kerja Anda memiliki kejelasan mengenai apa yang akan mereka capai di akhir periode. Dengan demikian, tim kerja juga bisa membentuk motivasi yang optimal untuk mencapai tujuan tersebut. </span></div>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Ciptakan tantangan</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Buatlah tantangan yang optimal bagi tim kerja dan anggota-anggotanya. Artinya, tantangan yang dibuat perlu diperhatikan tingkat kesulitannya. Jika suatu tantangan dinilai terlalu mudah, maka hanya akan dibutuhkan sedikit energi dalam menyelesaikannya dan tidak dilihat sebagai tantangan. Hal ini tidak akan meningkatkan motivasi tim kerja Anda. Sebaliknya, jika tantangan dibuat terlalu sulit, maka tim kerja akan mencapai suatu titik penurunan motivasi karena tidak ada tanda-tanda tujuan akan tercapai. Istilah psikologis untuk fenomena ini adalah learned helplessness, yaitu seseorang menjadi putus asa karena setiap usahanya tidak bisa membuahkan hasil yang diinginkan, sehingga ia tidak terdorong untuk mencoba lagi.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kebersamaan dan loyalitas</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Bangunlah kebersamaan dan loyalitas yang kuat antar anggota tim kerja. Kebersamaan dan loyalitas dapat diartikan sebagai kedekatan dan rasa kepemilikan terhadap setiap anggota tim kerja atau terhadap tim kerja itu sendiri. Kebersamaan akan sangat bermanfaat dalam tim kerja. Jika anggota tim kerja memiliki kedekatan satu sama lain maka akan lebih mudah bagi setiap orang untuk saling memberi atau menerima dukungan berupa pujian ataupun kritik. Dengan mengenal baik rekan tim kerja, kita akan mengetahui bagaimana kiranya gaya bahasa dan pola perilaku yang sesuai dalam memberikan umpan balik. Jika kebersamaan dan loyalitas ini telah terbangun melalui proses umpan balik yang baik, maka setiap anggota kelompok akan merasa ada yang peduli dan memperhatikan mereka. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan motivasi tim kerja.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Rasa bertanggung jawab</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Masih berkaitan dengan rasa kepemilikan terhadap tim kerja, anggota tim juga perlu membangun rasa bertanggung jawab yang optimal terhadap kelompok kerjanya. Rasa bertanggung jawab yang optimal akan membuat anggota kelompok merasa tidak ingin timnya mengalami kegagalan. Kondisi ini akan memotivasi mereka untuk menunjukkan kinerja lebih baik demi pencapaian tujuan tim kerja. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa rasa tanggung jawab yang berlebihan ternyata justru akan menurunkan motivasi. Motivasi yang dilandasi oleh rasa takut berlebihan akan berubah menjadi teror, yang akhirnya dapat membuat seseorang enggan menunjukkan kinerjanya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Berkembanglah bersama</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Ketika semua anggota tim merasa mereka bergerak bersama, belajar bersama, menambah kemampuan bersama, dan sama-sama menyamakan pemikiran kelompok, maka hal ini akan memacu motivasi karena anggota kelompok merasa memiliki kemampuan, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Usahakan juga agar tiap anggota tim mempersepsi bahwa setiap usaha yang mereka keluarkan akan menghasilkan keuntungan yang sama perbandingannya dengan usaha dan keuntungan yang diterima anggota lain. Dengan demikian, tidak ada kecemburuan yang berkembang di dalam tim kerja dan motivasi bekerja bisa meningkat. Satu langkah awal yang bisa dicoba untuk menciptakan rasa berkembang bersama adalah dengan mengikuti kegiatan belajar atau pengembangan bersama dan kemudian menerapkannya bersama-sama dalam tim kerja. Cobalah berdiskusi dengan rekan-rekan tim kerja Anda mengenai pelatihan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja tim dan kemudian ikuti pelatihan tersebut bersama-sama untuk kemudian juga bersama-sama menerapkannya di dunia pekerjaan sehari-hari. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kepemimpinan</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Mungkin sekaranglah saatnya Anda maju dan memimpin misi me“re-motivasi” tim kerja Anda. Jadilah anggota tim yang berinisiatif mengajak rekan tim lainnya untuk menyadari pentingnya tujuan kelompok, menciptakan tantangan untuk tim, menggalang kebersamaan dan loyalitas tim, membentuk rasa tanggung jawab terhadap tim, dan berkembang bersama dalam tim. Ajak rekan-rekan untuk berdiskusi mengenai kinerja tim secara keseluruhan, dan juga untuk saling memberi umpan balik mengenai kinerja masing-masing orang. Tularkan antusiasme dan motivasi Anda kepada rekan lain. Dengan memulai demam motivasi ini, tanpa Anda sadari Anda telah mengobarkan motivasi pribadi Anda. Kemudian, rekan-rekan tim kerja Anda juga akan terbawa oleh hangatnya semangat yang Anda hembuskan. Akhirnya, seluruh anggota tim akan menyadari pentingnya motivasi tim kerja dan mau bekerja bersama untuk meningkatkan motivasi tim kerja.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Selamat mencoba!</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/30/maju-terus-pantang-mundur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun ke 4 blog.beoco.or.id</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/23/tahun-ke-4-blog-beoco-or-id/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/23/tahun-ke-4-blog-beoco-or-id/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 06:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama menulis di blog ini sudah banyak sekali desain dan tampilan yang digunakan, pindah -pindah Lokasi Server dari yang Gratisan sampai yang berbayar dan menggunakan VPS ,  tanpa terasa sudah menginjak tahun ke Empat dalam pengelolaan website ini dan akan diperpanjang kelangsungan nya selama mungkin untuk menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah sekian lama menulis di blog ini sudah banyak sekali desain dan tampilan yang digunakan, pindah -pindah Lokasi Server dari yang Gratisan sampai yang berbayar dan menggunakan VPS ,  tanpa terasa sudah menginjak tahun ke Empat dalam pengelolaan website ini dan akan diperpanjang kelangsungan nya selama mungkin untuk menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi umat manusia,</p>
<p>Sejarah dari website ini juga penuh dengan perjuangan dari soal mendapatkan domain sampai dengan pengelolaanya sejak dimulai dari masa kuliah tahun 2007 dan saat ini tahun 2011,  akhir-akhir ini setelah masuk dunia kerja agaknya terasa malas dalam menulis mungkin sudah jauh dari dunia mengetik yang menyebabkan sudah bosen dalam mengarang sebuah tulisan tetapi hal ini harus dilawan dengan tetap menulis dan berkarya menciptakan informasi / pengetahuan hal baru yang saya coba untuk di sebarkan ke para pembac.</p>
<p>Atas perhatiannya para pembaca yang setia mengunjungi website ini saya ucapkan banyak terima kasih semoga informasi yang ada dapat bermanfaat untuk kita semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam</p>
<p>Aan Farianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/23/tahun-ke-4-blog-beoco-or-id/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat-kiat Bertemu Calon Mertua</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/kiat-kiat-bertemu-calon-mertua/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/kiat-kiat-bertemu-calon-mertua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Saat hubungan Anda dan si dia telah serius, kinilah saatnya bertemu orangtuanya. Tapi jangan sampai pertemuan yang penting ini membuat hubungan yang telah Anda jalin justru berakhir berantakan. Tak ingin gagal? Baca dulu kiat-kiat berikut. Waktu Waktu yang tepat adalah segalanya. Memilih waktu yang salah hanya akan membuat rencana Anda dan pasangan berantakan. Konsultasikan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat hubungan Anda dan si dia telah serius, kinilah saatnya bertemu orangtuanya. Tapi jangan sampai pertemuan yang penting ini membuat hubungan yang telah Anda jalin justru berakhir berantakan. Tak ingin gagal? Baca dulu kiat-kiat berikut.<br />
<span id="more-109"></span><br />
<strong>Waktu<br />
</strong>Waktu yang tepat adalah segalanya. Memilih waktu yang salah hanya akan membuat rencana Anda dan pasangan berantakan. Konsultasikan dengan kekasih, kapan orangtuanya memiliki waktu luang, sehingga dengan sendirinya, suasana hati mereka pun tengah baik.</p>
<p><strong>Kenali lebih dalam</strong><br />
Cari tahu &#8220;nilai-nilai&#8221; apa yang berlaku di keluarga kekasih. Hal ini akan membuat Anda lebih mudah untuk berbaur dengan orangtuanya. Jangan sampai perbedaan nilai membuat Anda dinilai tidak sopan oleh mereka. Sesuaikan diri Anda dengan baik.<br />
<strong><br />
Tempat</strong><br />
Tempat bertemu juga memengaruhi kesuksesan pertemuan. Hindari tempat yang terlalu ramai dan bising yang bisa membuat orangtua kekasih merasa tidak nyaman. Lebih baik pilih tempat yang nyaman, seperti sebuah kafe keluarga dengan alunan musik balada atau jazz yang lembut. Suasana tenang juga akan membuat hati menjadi senang.</p>
<p><strong>Tepat waktu<br />
</strong>Jangan sampai kesan pertama diri Anda rusak hanya karena datang terlambat. Lebih baik datang lebih dulu demi menghormati orangtua kekasih.</p>
<p><strong>Hadiah</strong><br />
Tak ada salahnya membawa hantaran sederhana untuk menyenangkan orangtua kekasih. Diskusikan lebih dahulu dengan kekasih, hadiah apa yang paling tepat diberikan. Hal ini dapat memperlihatkan perhatian Anda pada keluarga kekasih.</p>
<p><strong>Penampilan</strong><br />
Jangan lupa mempersiapkan penampilan Anda. Tampil seksi sangat tidak disarankan. Lebih baik gunakan pakaian yang sederhana, namun tetap terlihat elegan. Terusan sepanjang lutut, atau paduan kemeja dan celana jeans bisa menjadi pilihan yang tepat. Tata rambut juga harus diperhatikan. Pilihlah tatanan rambut yang rapi dan apik. Pilihlah tema warna make-up yang lembut dan natural sehingga penampilan tak tampak berlebihan. Hindari juga memakai terlalu banyak aksesori. Lebih baik pilih tampilan aman dan sederhana.</p>
<p><strong>Topik pembicaraan<br />
</strong>Hati-hati memilih topik pembicaraan. Pilihlah topik yang netral tanpa menyudutkan pihak manapun (misalnya bertema SARA). Jangan lupa juga tunjukkan keahlian Anda, misalnya bicarakan prestasi di bidang pekerjaan. Hal ini akan menjadi nilai plus yang tepat. Tapi hati-hati ya, jangan sampai Anda justru terkesan sombong dan angkuh.<br />
<strong><br />
Memuji</strong><br />
Jangan lupa untuk memuji. Carilah kelebihan orangtua pasangan, dan ungkapkan kekaguman Anda. Berikanlah pujian dengan tulus. Pujian palsu hanya akan membuat Anda terlihat dan terdengar munafik.</p>
<p>Semoga sukses!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/kiat-kiat-bertemu-calon-mertua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan Wanita Lajang Dilarang Konsumsi Pisang Ambon</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/alasan-wanita-lajang-dilarang-konsumsi-pisang-ambon/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/alasan-wanita-lajang-dilarang-konsumsi-pisang-ambon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai wanita lajang, tentu banyak aturan dan mitos yang selalu ada di sekitar kehidupan kita. Namun, beberapa mitos, ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah. Itulah sebabnya pelarangan tersebut memang seharusnya dipatuhi. Larangan makan buah pisang ambon bagi seorang yang masih gadis misalnya. Pakar gizi Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, dalam perbincangan ringannya dengan Republika, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai wanita lajang, tentu banyak aturan dan mitos yang selalu ada di sekitar kehidupan kita. Namun, beberapa mitos, ternyata memang bisa dibuktikan secara ilmiah. Itulah sebabnya pelarangan tersebut memang seharusnya dipatuhi.<span id="more-106"></span></p>
<p>Larangan makan buah pisang ambon bagi seorang yang masih gadis misalnya. Pakar gizi Prof Ir Ahmad Sulaeman MS PhD, dalam perbincangan ringannya dengan Republika, menjelaskan alasan ilmiah dibalik pelarangan ini. “Pisang ambon itu punya zat yang membuat libido tinggi,” ujarnya.</p>
<p>Jika terlalu banyak mengonsumsi pisang ambon, bagi seorang gadis, akan berbahaya, karena libidonya akan naik. Padahal statusnya masih gadis, sehingga tak bisa menyalurkan hasrat seksualnya. &#8220;Jika sudah menikah, libido tinggi tak akan menjadi masalah, namun ketika masih gadis, ini menjdi problem tersendiri. Jadi lebih baik kurangi saja,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sumber : Republika, Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/10/15/alasan-wanita-lajang-dilarang-konsumsi-pisang-ambon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpikir Lebih Tepat Sasaran</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/berpikir-lebih-tepat-sasaran/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/berpikir-lebih-tepat-sasaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 22:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Hidup ini semestinya sederhana, namun pada akhirnya dirasa menjadi rumit ketika kita menyadari ada banyak hal bermain di dalamnya. Pada dasarnya, dunia kita memang merupakan sebuah sistem yang sarat dengan interdependensi. Manusia dan kejadian saling terkait satu sama lain. Apa yang kita lakukan akan membawa berbagai dampak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Jika kita memahaminya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Hidup ini semestinya sederhana, namun pada akhirnya dirasa menjadi rumit ketika kita menyadari ada banyak hal bermain di dalamnya. Pada dasarnya, dunia kita memang merupakan sebuah sistem yang sarat dengan interdependensi. Manusia dan kejadian saling terkait satu sama lain. Apa yang kita lakukan akan membawa berbagai dampak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Jika kita memahaminya dan bisa memandang dunia dengan cara seperti ini, maka kita bisa lebih sadar akan peran dan tanggung jawab kita di dalam sistem tersebut. Pemahaman itu juga akan membantu kita lebih cermat dalam menghadapi masalah. </span></p>
<p><span id="more-98"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Mengapa kita perlu lebih cermat menghadapi masalah? Karena seringkali kita sekedar menangkap permasalahan hanya di permukaan dan segera mencari penyelesaian instan tanpa menyadari adanya penyebab-penyebab yang lebih mendasar. Ini seperti kebiasaan minum obat pereda pusing setiap kali sakit kepala tanpa mencari tahu apa sebenarnya yang membuat kita sering mengalami sakit kepala. Akibatnya, penyebab sakit kepala tidak ditemukan, dan penggunaan berlebihan terhadap obat pereda sakit (yang hanya mengurangi gejala) justru bisa menimbulkan masalah lain. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Cobalah untuk berpikir lebih tepat. Temukan dan kaji akar penyebab permasalahan agar kita dapat mengatasinya dan sekaligus melenyapkan gejala-gejala yang mengikutinya. Kalau misalnya sesudah melakukan pemeriksaan kesehatan diketahui bahwa penyebab sakit kepala adalah masalah pada gigi, maka dengan menyelesaikan masalah gigi ini kita memperoleh solusi atas dua hal sekaligus: penyakit pada gigi, dan juga sakit kepala yang sebetulnya hanyalah gejala dari adanya masalah gigi. Artinya, dengan cara berpikir yang lebih tepat sasaran, kita bisa mengambil langkah konstruktif terhadap akar masalah  dan sekaligus menyelesaikan berbagai masalah lain yang menyertai. Jadi, dengan satu langkah efektif, kita membawa perbaikan besar di sana-sini secara sekaligus.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tapi kenapa ya, kita masih saja sering saja terjebak dalam keinginan mengambil solusi pintas? Akibatnya, masalah datang kembali dan lagi-lagi kita jadi pusing menanganinya. Bagaimana caranya supaya lebih cermat? </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Begini caranya. Ada situasi-situasi yang terjadi <strong>berulangkali</strong> dalam kehidupan kita. Kalau kita mau meluangkan waktu untuk menelitinya, kita akan terbantu untuk melihat mekanisme interaktif di balik situasi itu dan latar belakang yang mendasari suatu masalah. Kita juga bisa menemukan pola tindakan yang sering kita ambil dalam mengatasi masalah-masalah tertentu dan dapat menemukan apa yang menjadi “kebiasaan” kita dalam menyelesaikan masalah. Nah, meskipun satu dua kali ”kebiasaan” tersebut memberi jalan keluar, sadarilah bahwa ”kebiasaan” itu <strong>tidak selalu</strong> menjanjikan hasil yang efektif. Oleh karenanya, kita perlu menyiasati agar tidak terjebak dalam pola yang “biasa” digunakan dalam menganalisis dan memecahkan masalah. Mari kita lihat beberapa kebiasaan yang biasa terjadi dan cara mengatasinya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>1. Solusi Yang Bukan Solusi</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Mungkin sudah jadi kecenderungan manusia untuk segera bereaksi terhadap gejala (simtom) yang menyebabkan ketidaknyamanan dengan mencari pereda secara instan. Kita selalu ingin cepat-cepat terbebas dari rasa sakit atau tidak rasa tidak menyenangkan itu.  Jika kemudian solusi yang diambil tampak berhasil menyelesaikan gejala (simtom), maka muncul suatu perasaan lega (meski inti masalahnya belum tentu terpecahkan) dan kita merasa berhasil menyelesaikan masalah. Padahal, akar masalah tetap ada dan di waktu lain memunculkan gejala (simtom) yang sama atau bahkan lebih buruk. Dan biasanya, lagi-lagi kita mengulangi solusi instan yang pernah kita ambil karena sudah yakin akan efektivitasnya.  </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Agar terhindari dari kebiasaan yang satu ini, sadarilah bahwa penyelesaian pintas hanya mengurangi gejala untuk sementara. Kita tetap harus berusaha menemukan solusi yang sesungguhnya. Jadi, kalau Anda menghadapi kesulitan, luangkan waktu untuk meneliti inti permasalahan dan selesaikanlah masalah ke akar-akarnya. Ya, penyelesaian ”rasa sakitnya” mungkin jadi sedikit tertunda, tapi tindakan itu mencegah munculnya masalah yang sama di kemudian hari. Seperti pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang kemudian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nah! </span></p>
<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>2. ”Lempar Monyet”</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/121b.gif" alt="" width="129" height="150" align="left" hspace="12" />Istilah ini sering kita dengar, melempar masalah pada orang lain agar kita merasa lega. Minta teman menyelesaikan tugas yang tidak kita kuasai, misalnya. Alasannya sih minta bantuan supaya tugas terselesaikan dengan baik. Tapi jika selalu begitu, kapan kita akan belajar menguasai tugas tersebut? Setiap kali ada tugas serupa, kita harus mencari teman yang bisa dimintai tolong. Ya kalau mereka punya waktu, kalau tidak? Atau bahkan kadang-kadang, kita yang ”mengambil monyet” agar masalah cepat selesai. Kalau bawahan seringkali melakukan kesalahan, kadang kita mengambil jalan pintas: mengerjakannya sendiri. Sama saja dengan sebelumnya, tugasnya mungkin selesai dengan baik, tapi apakah si bawahan lantas meningkat kompetensinya? Apa seumur-umur kita mau mengambil alih tugas dia? </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">”Melempar monyet” memang cara yang paling mudah, dan karena mudah kita jadi senang mengulanginya. Sekali lagi, jangan malas untuk mencari akar masalah. Kalau masalahnya kemampuan, ya selesaikan masalah kemampuan itu, jangan lantas pekerjaannya yang dilempar atau diambil alih. Atau, kalau kondisinya menuntut kita untuk mengatasi gejalanya terlebih dahulu, maka hal ini tetap harus diupayakan bersamaan dengan pencarian solusi yang mendasar. Jadi, kalau keadaannya mendesak maka tugas bawahan boleh saja kita ambil alih, tapi tetap kita harus melatih bawahan agar kelak ia mampu mengerjakannya sendiri. Kira-kira seperti merawat orang demam, selain mengkompres kepalanya, kita juga harus tetap mencari penyembuhan yang tepat. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>3. Mengubah Sasaran</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Coba lakukan introspeksi, kadang-kadang betapa mudahnya kita menurunkan sasaran saat terasa sulit untuk mencapainya. Ketika kenyataan kurang mendukung, bukan usaha yang kita kerahkan, tapi ambisi yang kita kutak-katik. ”Ah sudahlah, proyek ini kita selesaikan tahun depan saja, sepertinya kita kekurangan orang.” Terasa lebih lega <em>kan</em>? Kita enggan pusing-pusing mencari jalan keluar mengatasi masalah kekurangan tenaga. Kalau cara ini sering kita ulang, tanpa kita sadari, bukan sasarannya saja yang semakin rendah, kinerja kita pun akan semakin rendah. Kita tidak pernah lagi memacu diri dengan sasaran-sasaran yang prestatif.<br />
<img src="http://www.lptui.com/upload/images/121c.gif" alt="" width="96" height="84" align="left" hspace="12" /><br />
Nah, supaya tidak terjadi revisi begitu saja terhadap sasaran, maka pertama kali kita harus tahu betul mengapa kita menetapkan sasaran seperti itu. Kita harus yakin betul bahwa sasaran itu memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Misalnya, kalau batas akhir penyelesaian proyek kita yakini sebagai representasi kepercayaan klien pada perusahaan kitamaka kita tidak akan mudah menyerah begitu saja dengan masalah-masalah sumberdaya. Kita bisa mencari tambahan orang dari luar, misalnya. Di sini memang perlu analisis yang tajam terhadap sasaran kita. Ada beberapa ambisi yang kelihatannya keren namun sulit untuk direalisasikan, atau sesungguhnya tidak terlalu penting.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>4. Eskalasi</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Eskalasi adalah masalah yang menjadi semakin besar atau semakin serius. Ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Satu pihak melakukan sesuatu yang dipandang mengancam, lalu pihak lain berusaha merespons ancaman ini dengan tindakan lain yang juga dianggap sebagai ancaman oleh pihak pertama, dan begitu seterusnya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Perang harga misalnya. Warung gado-gado Bu Siti menawarkan harga lebih murah untuk satu porsi gado-gado dan teh hangat. Merasa terancam, Mpok Leha menawarkan harga yang lebih murah lagi untuk menu yang sama. Karena ”panas”, Bu Siti mengurangi lagi harga si gado-gado. Dan seterusnya sampai akhirnya Bu Siti maupun Mpok Leha harus mengurangi bahan-bahan gado-gadonya. Mula-mula telur rebus yang menjadi separuh, lalu seperempat, lalu menghilang. Kemudian diikuti dengan besarnya porsi yang berkurang, teh hangat yang berubah jadi air putih, emping renyah yang menjadi krupuk murahan, dan seterusnya. Ketika kualitas terus menurun, orang tidak akan mendapatkan lagi gado-gado yang nikmat. Dan akhirnya, Bu Siti maupun Pok Leha akan kehilangan pelanggan. Nah, mengapa Bu Siti dan Mpok Leha pernah melihat cara itu sebagai cara yang tepat? Karena cara itu terasa melegakan dan sepertinya efektif. Mpok Leha bisa merasakan kepuasan karena bisa mematahkan ancaman dari Bu Siti, dan mungkin saja pelanggannya bertambah karena mereka tentu mencari harga yang lebih murah. Tapi lama kelamaan langkah menurunkan harga justru memunculkan masalah yang lebih besar, penurunan kualitas. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Untuk mengatasi eskalasi, kita harus mau menelusuri dan menguji asumsi yang mendasari persepsi kita tentang ancaman pihak lain. Benarkah diri kita terancam oleh pihak lain? Apa betul pihak itu punya niat menghancurkan kita? Apakah sebenarnya yang menjadi permasalahan kita? Barangkali perkara gado-gado tadi sebetulnya sekedar masalah efisiensi. Bu Siti bisa memberi harga lebih murah mungkin karena sayur-sayuran datang dari kebunnya sendiri. Mpok Leha bisa mempertahankan pelanggan misalnya dengan membuat warungnya bersih, nyaman, dan ada teve. Jadi, bukan gado-gadonya yang jadi sasaran. Bahkan bukan tidak mungkin Bu Siti dan Mpok Leha berkolaborasi membuat warung gado-gado yang lebih besar.  </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>5. Tragedi Sumberdaya Berlimpah</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/121d.gif" alt="" width="102" height="112" align="left" hspace="12" />Apa pula ini? Untuk mudahnya, bayangkan sebuah pesta dengan hidangan cara prasmanan. Seringkali orang cenderung mengambil sebanyak mungkin makanan tanpa memikirkan orang lain juga mungkin ingin mengambil makanan tersebut. Bahkan kadang kita tidak mengukur apakah kita sanggup menghabiskannya. Begitu kelihatan enak, ambil sebanyak-banyaknya. Semestinya kita cukup mengambil makanan sekedar memadai untuk bisa kita makan. Nah, ketika tersedia sumberdaya berlimpah, kita punya kecenderungan menggunakannya seenak udel. Misalkan, karena mudah minta stok kertas di kantor, kita jadi terbiasa menggunakan kertas seenaknya. Begitu stok menipis dan anggaran sudah keburu habis, kelimpunganlah kita semua. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Agar tidak terjebak pada kebiasaan ini, kita perlu membuat supaya semua orang merasa isyu tersebut adalah isyu yang harus dipikirkan bersama dan diatasi bersama. Semua mesti menyadari bahwa kelimpahan itu sifatnya tidak langgeng dan ada pihak-pihak lain yang juga berkepentingan. Jadi, masing-masing mesti memikirkan dampak perbuatannya pada pihak lain. Cara lain adalah dengan mengalokasikan bagian-bagian sumberdayaitu kepada tiap orang dan minta mereka bertanggung jawab atas penggunaannya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Nah, demikianlah lima kebiasaan pikir yang sebaiknya ditinggalkan: 1) jangan berpikir bahwa solusi instan akan menuntaskan masalah, 2) jangan berpikir masalah akan selesai jika dipindahkan pada orang lain, 3) jangan berpikir menurunkan sasaran adalah satu-satunya cara untuk keluar dari masalah, 4) jangan berpikir curiga bahwa sesuatu adalah ancaman untuk kita, dan 5) jangan berpikir kita boleh menghambur-hamburkan sumberdaya milik sama yang tampaknya berlimpah. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Tentu masih ada kebiasaan-kebiasaan berpikir lain yang perlu kita perbaiki, tapi setidaknya dengan memperbaiki lima hal ini saja, hidup Anda akan menjadi lebih baik!</span></p>
<p align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><em>Disadur dari buku Big Fish Eat Small Fish, Lenses to See The World<br />
(Low Guat Tin, Ng Pak Tee, Janice Baruch, 2003)</em></span></p>
<p style="text-align: left;" align="right">Sumber : <a href="http://www.lptui.com/artikel.php?fl3nc=1&amp;param=c3VpZD0wMDAyMDAwMDAwODkmZmlkQ29udGFpbmVyPTY2&amp;cmd=articleDetail">LPTUI</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/berpikir-lebih-tepat-sasaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penampilan Anda pun Bicara</title>
		<link>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/penampilan-anda-pun-bicara/</link>
		<comments>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/penampilan-anda-pun-bicara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 22:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beoco.or.id/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Coba dengar pembicaraan antara dua orang peserta seminar yang sedang memperhatikan para pembicara yang duduk di panggung. Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penampilan merupakan salah satu acuan yang digunakan untuk menilai orang lain. Apalagi jika orang yang dihadapi sama sekali tidak dikenal, penampilan sering menjadi acuan utama. Dengan melihat bentuk tubuh, wajah, gerak-gerik, tata rias, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Coba dengar pembicaraan antara dua orang peserta seminar yang sedang memperhatikan para pembicara yang duduk di panggung.</span></p>
<table width="200" border="0">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2.gif" alt="2" width="503" height="203" align="bottom" /></span></td>
<td valign="top"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2a.gif" alt="1" width="97" height="83" /></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa penampilan merupakan salah satu acuan yang digunakan untuk menilai orang lain. Apalagi jika orang yang dihadapi sama sekali tidak dikenal, penampilan sering menjadi acuan utama. Dengan melihat bentuk tubuh, wajah, gerak-gerik, tata rias, gaya berpakaian atau tata rambut, bisa timbul berbagai kesan mulai dari yang positif sampai negatif. Di sinilah terjadi proses persepsi sosial, yang oleh Baron dan Byrne (1994) didefinisikan sebagai proses yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mencari informasi tentang orang lain.</span></p>
<p align="justify"><span id="more-96"></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Persepsi terhadap penampilan fisik sering diasosiasikan dengan karakteristik-karakteristik lain seperti kepribadian atau bahkan kompetensi. Lebih jauh lagi, kesan yang muncul dapat memiliki pengaruh yang kuat bagi suatu hubungan interpersonal. Richmond, McCrockey dan Payne (1991) menyatakan bahwa ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, kita cenderung melihat penampilan fisiknya dan kesan yang diperoleh dapat mempengaruhi bagaimana interaksi yang terjadi di masa datang. Kadang hanya dari penampilan seseorang, kita bisa mempunyai kesan yang begitu “kuat” terhadap orang tersebut sampai-sampai kita melupakan kualitas-kualitas lain yang ada pada dirinya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Salah satu hal yang dikaitkan dengan penampilan adalah <strong>gaya berbusana</strong>. Cara berpakaian menjadi penting ketika seseorang harus tampil di depan umum, bertemu dengan orang banyak atau berhadapan dengan orang-orang tertentu yang punya kedudukan penting atau disegani. Oleh karena itu “<strong>siapa orang yang akan ditemui</strong>” akan banyak menentukan pakaian seperti apa yang layaknya dipilih. Selain itu ada juga hal-hal yang juga tidak kalah penting dan perlu diperhatikan dalam berbusana:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Ciri-ciri fisik pribadi</strong> (bentuk tubuh, warna kulit, bentuk wajah)</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Situasi / acara</strong> (formal/semi formal/santai)</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Cuaca dan suhu</strong> (jangan sampai ada kesan BPAG “ Biar Panas Asal Gaya”)</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><strong>Kebiasaan atau budaya setempat</strong></span></li>
</ul>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Semakin seseorang mampu berbusana secara tepat dan serasi, ia akan semakin dihargai dan tentunya kepercayaan dirinya akan meningkat. Sayangnya tidak semua orang memiliki selera yang baik dalam berpakaian dan tidak semua orang peduli dengan penampilannya. Padahal, setiap orang punya kesempatan dan bisa belajar untuk lebih pandai dan bijak dalam berbusana. Melalui pengalaman, kepedulian terhadap diri, dan keterbukaan terhadap tren berbusana serta saran-saran dari orang-orang di sekitarnya, lama-kelamaan selera berbusana seseorang akan semakin baik.<br />
<img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2b.gif" alt="3" width="136" height="151" align="left" hspace="12" /><br />
Apakah Anda bekerja sebagai seorang profesional? Nah, Anda perlu memperhatikan tata cara berpakaian yang juga bisa menjadi salah satu cerminan profesionalisme. Jangan berpikir bahwa hanya cara berbicara, cara berpikir atau cara bekerja kita saja yang diperhatikan oleh para klien. Tanpa kita sadari, sangat mungkin klien memperhatikan bagaimana cara kita berbusana dan mulai membangun citra tertentu di benak mereka, yang bisa saja positif tapi bisa juga negatif. Nah, citra negatif itulah yang mesti kita hindari. Ekstrimnya, jangan sampai kita kehilangan peluang hanya karena klien merasa tidak “sreg” dengan penampilan kita.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Berikut ini beberapa tips praktis, yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan acuan bagi kita semua.</span></p>
<ol>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kenali <strong>kepribadian</strong> kita. Pilih busana yang <em>chic</em> dan <em>trendy</em> tapi juga mencerminkan karakter pribadi. Tentu saja kita perlu menyesuaikan pakaian dengan aktivitas yang dilakukan, tapi jangan juga menggunakan pakaian yang membuat kita sendiri menjadi gelisah karena tidak nyaman mengenakannya. Misalnya, Anda lebih suka pakaian bergaya etnik ketimbang menggunakan setelan rok dan <em>blazer</em> formal. Nah, seandainya keadaan menghendaki Anda menggunakan baju formal itu, Anda bisa mengambil jalan tengah dengan menggunakan blus dalam dari bahan etnik, atau kompensasikan dengan menggunakan syal atau asesoris bercorak etnik yang sepadan. Jadi, Anda tidak sama sekali kehilangan ”warna” Anda. Jangan lupa untuk menyesuaikan busana yang dipilih dengan <strong>warna kulit, bentuk wajah, dan bentuk tubuh.</strong></span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Untuk bekerja sehari-hari, sesuaikan busana dengan <strong>lingkungan kerja</strong>. Pastikan busana yang dipilih nyaman untuk dikenakan tapi tidak menyalahi peraturan di tempat kerja. Kalau pun tidak ada peraturan tertulis, tangkap citra apa yang ingin ditampilkan perusahaan dan cobalah menyesuaikan diri karena kita merupakan bagian penting yang akan membawa citra perusahaan. Kemeja Hawaii dengan celana <em>jeans</em> tentu membawa pesan berbeda dari stelan celana panjang dari bahan kain dengan kemeja berdasi. Supaya tidak ”salah kostum”, kalau Anda ragu tanyakan pada Bagian SDM bagaimana seharusnya gaya berpakaian di perusahaan Anda.</span></div>
</li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2c.gif" alt="4" width="120" height="132" align="right" hspace="12" /></span>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kalau kita banyak berinteraksi dengan klien, sesuaikan busana kita dengan <strong>gaya klien</strong> yang akan dihadapi. Kalau klien lebih suka bergaya semi formal atau cenderung informal, jangan gunakan setelan yang terlalu formal karena justru akan mengesankan ada jarak antara kita dan klien. Oleh karena itu, pandai-pandailah mencari informasi tentang klien-klien Anda. Kalau Anda tidak cukup memiliki informasi, pilih yang kira-kira netral atau bisa segera Anda sesuaikan. Misalnya, gunakan blus dalam berlengan di balik <em>blazer</em> Anda. Jika ternyata klien Anda bergaya semi formal, sebelum pertemuan Anda bisa melepas <em>blazer</em> di toilet. Kemudian di ruang pertemuan, sampirkan <em>blazer</em> di pegangan kursi dengan rapi (jangan di punggung kursi!).</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Miliki koleksi pakaian dengan <strong>warna-warna</strong> ”aman”. Seringkali kita tidak memiliki cukup informasi gaya busana seperti apa yang bisa diterima klien atau rekanan bisnis, sehingga kita perlu memiliki koleksi busana yang netral untuk segala suasana. Warna-warna dasar yang wajib dimiliki adalah biru tua (<em>navy blue</em>), hitam, putih, coklat, abu-abu tua (<em>charcoal grey</em>), dan coklat kehijauan (<em>khaki</em>). Pilih setelan dengan warna-warna itu, baru tambahkan warna cerah atau terang sebagai pelengkap. Warna-warna yang “pantang” untuk dipadukan antara lain coklat dengan biru, ungu dengan merah.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Sepatu dan tas merupakan pelengkap yang pasti diperlukan untuk bekerja. Miliki minimal dua pasang <strong>sepatu kerja</strong>, warna hitam dan coklat tua. Untuk wanita, sepatu warna krem sedikit kecoklatan (<em>beige</em>) juga bisa digunakan. Pilih bahan dari kulit agar tahan lama, nyaman dipakai, dan tampilannya cukup baik. Untuk wanita, tinggi hak sepatu yang baik kira-kira 1,5 – 2 inci dan jangan menyulitkan kita berjalan. Sepatu mesti bersih dan warnanya tidak kusam. Dalam pertemuan dengan klien atau acara formal lainnya, jangan kedapatan Anda lepas sepatu! Selain itu, miliki <strong>tas kerja</strong> berwarna netral seperti hitam, coklat, atau krem kecoklatan (<em>beige</em>) agar mudah dipadu padankan dengan beragam warna pakaian.</span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Kalau kita dengan rekan lain mewakili perusahaan untuk suatu aktivitas, jangan lupa untuk menjaga agar <strong>penampilan tim</strong> kita tampak serasi. Misalnya, sepakati apakah mau bergaya busana formal atau semi formal, apakah akan berkemeja lengan panjang atau lengan pendek, apakah akan mengenakan dasi atau tidak.   </span></div>
</li>
<li>
<div align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Ada beberapa hal yang sebaiknya <strong>dihindari</strong> di lingkungan kerja formal:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Pakaian: <em>jeans</em>, <em>T-shirt</em>, busana berbahan tipis atau ketat, rok yang terlalu pendek, busana luar yang tidak berlengan, hanya berkerah halter atau bertali pundak, baju atau blus luar model ”kemben”, <em>legging</em>, celana ¾, celana berbahan <em>spandex</em>, celana <em>hipster</em> dengan blus yang terlalu pendek </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Motif atau cetakan pada pakaian: hindari kata-kata, logo, atau gambar yang potensial memancing rasa antipati</span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Alas kaki: sepatu sandal atau sepatu tali terbuka, <em>boot</em>, sepatu olahraga, selop </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Perhiasan: <em>body piercing,</em> cincin yang terlalu banyak (Anda kan bukan pelawak Tesi!), jam tangan yang kelonggaran, gelang yang bergemerincing, anting panjang </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Riasan: <em>eyeshadow</em> biru, cat kuku bercorak atau dengan <em>glitter</em> </span></li>
<li><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Wewangian (parfum, <em>hair spray</em>): yang baunya terlalu kuat (jangan lupa, mungkin saja rekan kerja atau klien Anda punya alergi terhadap bau menyengat)</span></li>
</ul>
<p><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;">Namun demikian ada juga lingkungan kerja yang ingin memberi ciri khas tertentu sehingga ”aturan” di atas tidak lagi mengikat, misalnya perusahaan periklanan dan <em>creative agency</em> yang barangkali ingin memunculkan kesan dinamis dengan gaya busana yang cenderung informal.</span></p>
</div>
</li>
</ol>
<p align="justify"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><img src="http://www.lptui.com/upload/images/0801_2d.gif" alt="5" width="95" height="87" align="left" hspace="12" />Mode selalu berubah, bisa jadi standar busana kantor juga berubah. Oleh karena itu, kembangkan terus kepekaan Anda dalam berpakaian. Bacalah referensi tentang tips berbusana kerja. Kunjungi toko-toko yang menjual pakaian kerja dan perhatikan busana yang dikenakan pada manekin. Juga tidak ada salahnya Anda meminta saran ahli. Mungkin biayanya memang terasa mahal, tapi Anda bisa memperoleh banyak bekal yang berguna untuk jangka waktu panjang. Dan jangan lupa, tanyakan pada atasan atau Bagian SDM perusahaan Anda, seperti apa tata cara berpakaian yang dikehendaki perusahaan. Nah, <em>you don’t have to be a model to look fashionable!</em></span></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><span style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;"><em><a href="http://www.lptui.com/artikel.php?fl3nc=1&amp;param=c3VpZD0wMDAyMDAwMDAwOGYmZmlkQ29udGFpbmVyPTY2&amp;cmd=articleDetail">Sumber : LPTUI</a></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beoco.or.id/2011/09/16/penampilan-anda-pun-bicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

